Categories
Opini Read

Berpikir Etis dan Paradigma-Paradigmanya

Kalau misal ditanya, “Berpikir dulu baru melakukan, atau melakukan dulu baru berpikir?” mana yang lebih tepat untuk menunjukan realita yang terjadi pada manusia? Mari berpikir. Mari menentukan jawaban. Kita harus berpikir untuk menentukan jawaban tersebut. Entah menjawab berpikir dulu atau berpikir setelah melakukan sesuatu (mengevaluasi). Kita tidak bisa lepas dari soal berpikir, apalagi dalam menentukan pilihan-pilihan dalam kehidupan ini.

Ada tiga kemampuan berpikir yang saya pahami, yakni berpikir kritis, berpikir kreatif, dan berpikir etis. Pada kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif, umumnya dilakukan untuk menentukan suatu kebenaran yang logis / rasional / masuk akal, menentukan mana benar dan mana salah. Namun pada berpikir etis lebih berbeda, sebab ada pertimbangan moral yang harus dipilih. Tidak berhenti pada soal mana benar dan mana salah, tapi juga pada pertimbangan mana baik dan mana buruk.

Sebab, ada hal-hal yang secara logis benar (rasional), tapi dalam realitanya malah meleset, alias berdampak buruk. Atau sering kali dalam kejadian yang secara etik buruk dilakukan, namun justifikasi rasional mampu membenarkan apa yang dilakukan tersebut. Misalnya, saat ujian akhir teman kita kedapatan mencontek, ketika ditanya kenapa mencontek ia menjawab, “Wah dosennya yang nggak bener ini, soalnya apa yang diajarkan dan apa yang di ujikan beda.”

Justifikasi tersebut secara rasional benar, meskipun apa yang dilakukan buruk. Inilah yang kemudian menjadi pengetahuan baru, bahwa rasio memiliki kelemahan, apa yang salah kadang kala tetap dicarikan argumen / justifikasi pembenarannya. Maka dalam kejadian-kejadian seperti itu diperlukan kemampuan berpikir etis, untuk lebih detail bagaimana menentukan pilihan yang tak hanya sekedar benar dan salah, tapi juga baik dan buruknya.

Dalam berpikir etis ada 3 framework atau paradigma yang sering digunakan, pertama adalah Teological Ethic, kedua adalah Deontologi Ethic, dan ketiga adalah Virtue Ethic. Ketiganya memiliki perbedaan mendasar tentang bagaimana sudut pandang etisnya ditentukan.

Teological Ethic

Teological Ethic adalah framework berpikir etis yang melihat pada hasil atau output-nya, tanpa mempedulikan proses yang terjadi. Misalnya pada kasus kegiatan seminar astronomi disuatu kampus, ada seseorang yang berkata, “Sudahlah datang saja, yang penting kamu kesana dapat ilmu baru tentang astronomi.” Ini adalah paradigma Teological Ethic, apa yang terjadi nantinya di seminar (meskipun datang telat, dan sebagainya) tidak dipertimbangkan.

Framework ini jelas bahwa fokusnya ada pada tujuan, jika dalam setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup ini belum sesuai dengan apa yang ingin kita tuju, maka artinya apa yang kita lakukan belum tepat dan benar, belum baik untuk diri kita. Pada kasus di atas, jika setelah seminar orang tersebut tidak tahu tentang ilmu astronomi, berarti apa yang dilakukannya adalah keliru atau salah.

Deontological Ethic

Deontological Ethic adalah framework berpikir etis yang melihat pada sudut prosesnya, tanpa peduli pada hasil atau output (alias pasrah). Misalnya pada kasus seminar yang sama, seseorang berkata, “Sudahlah yang penting itu datang dan belajar, soal nanti dapat ilmu atau tidak biarkan yang maha kuasa.” Ini framework Deontological Ethic, fokus pada proses atau kewajiban-kewajiban/pertimbangan moral yang dilakukan, soal apa nanti output-nya, pasrahkan saja.

Soal paradigma ini, contoh kasus lain misalnya pada bagian panitia anggaran seminar diatas, ketua panitianya berkata, “Nanti kamu buat SPJ-nya yang jujur, sesuai dengan pengeluaran,” poinnya ada pada kewajiban jujur, moral jujurnya, apapun dampak yang terjadi dari kejujuran itu, dipasrahkan saja pada yang kuasa, yang penting kewajiban moralnya sudah benar dan baik.

Virtue Ethic

Virtue Ethic atau etika kebajikan adalah framework berpikir etis yang melihat pada karakter atau orangnya. Misalnya kita akan memberikan kepercayaan kepada seseorang, lalu timbul satu pertanyaan, “Apakah orang ini bisa dipercaya?” Sudut pandang kita ada pada sisi orangnya. Dan ternyata orang ini karakternya jujur, maka keputusan yang kita ambil untuk mempercayainya sudah pasti tepat, sebab orang tersebut tidak akan menabrak prinsip-prinsip kejujuran.

Jadi, pada paradigma Virtue Ethic ini, asumsinya adalah orang-orang yang sudah terbangun karakter pada dirinya adalah orang yang baik, maka yang dilakukan pasti baik. Jika orangnya berani, maka dia tidak akan menabrak prinsip-prinsip keberanian. Jika orangnya suka berbohong, maka dia pasti menabrak prinsip-prinsip kejujuran, dan seterusnya, sehingga keputusan kita ditentukan dari karakter-karakter orang tersebut.

Tiga framework atau paradigma inilah yang biasa digunakan dalam berpikir etis. Mungkin dalam kejadian tertentu, kita sering menggunakan satu diantara tiga paradigma diatas, tapi baru menyadari setelah membaca tulisan ini.

Setidaknya dari apa yang sudah dituliskan ini, kita bisa mengkategorikan orang-orang yang sering kali berpikir dalam framework-framework di atas. Kita juga tidak kaget ketika kita bertemu orang yang menentukan pilihannya hanya fokus pada hasilnya, pada kewajiban moralnya (atau prosesnya), dan orang yang menentukan pilihan berdasarkan karakter-karakter tertentu. Dan satu lagi, kita tidak jadi orang yang nggumunan.

By Ahmad Mustaqim

Mari terus belajar...

One reply on “Berpikir Etis dan Paradigma-Paradigmanya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *