Categories
Opini Read

Diam yang Tak Sekedar Diam

Apa yang pertama kali kita pikirkan ketika mendengar kata “Diam”? Apakah Diam itu adalah sesuatu yang berhenti, yang tidak memberikan dampak pada sebuah sistem? Mungkin iya. Tapi pernahkan kita memikirkan bahwa ada sesuatu yang diam di dalam diri kita namun dalam kenyataannya sangat berdampak pada diri kita sendiri? Sesuatu yang disebut ketidaksadaran, tapi banyak menyetir wilayah sadar.

Tentang suatu pengalaman-pengalaman yang pernah disadari, tetapi kemudian dilupakan atau terabaikan, dan pengalaman-pengalaman yang terlalu lemah untuk menciptakan kesan sadar pada manusia. Ini saya menyebutnya koleksi bawah sadar, folder database bawah sadar atau endapan bawah sadar. Tanpa kita sadari, hal-hal tersebut jarang muncul di wilayah kesadaran kita, alias diam. Tapi banyak menentukan perilaku kita.

Ketika kita membaca buku, apakah sepenuhnya kita ingat, tahu, dan paham apa yang baru saja kita baca? Berdasarkan pengalaman pribadi saya tidak bisa sepenuhnya ingat, tahu, dan paham. Lantas apakah hal-hal yang kita baca itu sia-sia? Tentu tidak, semua masuk di wilayah bawah sadar, menjadi endapan bawah sadar. Pada momentum tertentu, biasanya endapan ini muncul dan menentukan apa-apa yang akan kita lakukan. Ia diam, tapi justeru sering menyetir wilayah sadar kita. Sama halnya dengan trauma-trauma yang dialami tiap manusia.

Dalam kasus sikap manusia misalnya, ada orang yang disenggol saja gampang marah. Kita yang nyenggol kadang kebingungan, “Kenapa orang ini marahan begini?”. Kita harus menyadari bahwa ekspresi marahnya orang tersebut bisa jadi karena pengalaman pribadinya, yang sering dimarahi orang tuanya dan sebagainya. Sehingga ketika disenggol, responnya langsung meniru berdasarkan pengalamannya tersebut.

Dari kejadian ini kita juga harus memahami tentang kompleksitas pengetahuan. Istilah marah dalam diri manusia itu kompleks, ada marah yang kita pahami dari cara marahnya orang tua, teman kita, bahkan diri kita sendiri, dan istilah marah dari pengalaman-pengalaman tertentu seperti dari membaca buku. Ini terstruktur menjadi satu pandangan tentang marah. Tapi kita sering tidak menyadarinya.

Saya makin kesini makin teringat dengan konsep Sigmund Freud tentang struktur psikologis manusia, atau teori psikoanalisis, ada tiga elemen penting yakni Id, Ego, dan Superego. Id adalah wilayah yang merepresentasikan kebutuhan dasar alamiah manusia seperti makan dan minum. Id bekerja sesuai prinsip kesenangan dan mencari kepuasan secara instan terhadap keinginan dan kebutuhan. Misalnya ketika dalam sebuah kegiatan seminar kita merasa haus, dan kita langsung menuju kantin untuk minum. Jika ini tidak terpenuhi maka akan timbul rasa cemas.

Sedangkan Ego adalah sesuatu yang berurusan dengan realita. Ego berusaha memenuhi keinginan Id secara kultur sosial atau dapat diterima secara sosial. Ego mengerti bahwa orang lain juga memiliki keinginan dan kebutuhan. Jadi, apa yang di inginkan Id masih dipertimbangkan. Misalnya dalam kegiatan tadi, ketika kita merasa haus, kita masih menunggu seminar selesai dulu untuk kemudian minum, atau percaya bahwa nanti akan ada panitia yang datang memberi minum. Ego menunda kepuasan manusia tersebut dan membantu menghilangkan kecemasan.

Selain itu, Superego adalah aspek moral dari suatu kepribadian yang didapat dari belajar, mulai dari orang tua yang mengasuh atau dari norma atau nilai pada sistem masyarakat yang didasarkan pada moral dan penilaian tentang benar dan salah. Hampir sama dengan Ego, namun bedanya di Superego keputusan diambil berdasarkan pada nilai-nilai moral.

Dari tiga elemen ini, hal-hal yang berkaitan dengan diam yang tak sekedar diam persis seperti elemen Id, wilayah yang tidak terlihat, tapi justeru banyak menentukan apa-apa yang dilakukan oleh manusia. Sesuatu yang kita tidak tahu, tidak muncul dalam kesadaran kita, tapi dia ikut nyetir kesadaran kita.

By Ahmad Mustaqim

Mari terus belajar...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *