Categories
Opini Read

Mispersepsi Tentang Teks

Ini adalah catatan harian saja, sifatnya pribadi, tapi jika bermanfaat buat kalian juga silakan dibaca sesukanya. Pun kalau catatan ini mengundang kalian untuk meninggalkan jejak gagasan, silakan komentar saja. Ini tentang satu kata yang harus saya ingat dan pahami agar tidak menjadi biang masalah dikemudian hari. Kata itu adalah Mispersepsi.

Mispersepsi, mis artinya salah dan persepsi artinya anggapan, jadi Mispersepsi adalah salah anggapan atau salah pemahaman. Hal ini sering terjadi, bahkan bisa saya bilang lucu jika hal ini terjadi di forum diskusi/publik. Ya, harusnya pembahasannya tentang A dengan metode B, tapi justru karena Mispersepsi orang malah membahas Z yang tidak ada hubungannya dengan A.

Dalam dunia yang serba cepat ini (baca: digital), manusia hidup di dua dunia secara langsung, yakni dunia nyata yang real dengan segala fakta pengalaman indera dan dunia maya yang penuh dengan panggung sandiwara. Era digital memang sangat positif, sebab banyak orang makin mudah berinteraksi tanpa harus bertemu secara langsung. Tanpa ribet tinggal meninggalkan pesan/messenger ke orang lain, maka interaksi pun terjadi.

Namun, disinilah, di sebuah pesan singkat digital itu orang sering Mispersepsi, terutama tentang teks, memahami teks pesan tanpa ruang dan waktu, hanya mengobjekan dengan hasil tafsir pikirannya sendiri. Misalnya begini, saya berada di forum publik (sebut saja grup khusus messenger/pesan singkat) yang mengharuskan menulis kata: WOYY KALIAN!!!. Ternyata Ada yang marah, ada yang ketawa, ada yang hanya sekedar membacanya saja.

Pada dasarnya, saya menulis itu hanya untuk sekedar memancing suasana agar grup makin ribut, makin berbunyi dari suasana mati suri. Padahal saya menulis itu sambil tertawa dan menikmati suasana yang santai nan syahdu. Tapi ada yang marah hanya karena tertulis kapital semua dengan bumbu tanda seru seakan dalam suasana emosi akut.

Nah, yang kadang dilupakan, orang memahami teks tersebut hanya berdasarkan kesimpulan pikirannya tanpa mencari sebab atau kenapanya, seperti kenapa si (penulis teks) subjeknya menuliskan hal itu. Memang teks itu multipersepsi, bisa ditafsir sekarep pembacanya, tapi kalau hanya mengerucutkan teks menjadi satu persepsi (pemahaman), yo, alangkah mubazirnya. Ya kalau hasil persepsimu sama dengan si penulis teks, lah kalau tidak? Mungkin kalian akan masuk dalam kategori yang marah itu.

Ditulis: 04/03/2019

Categories
Opini Read

Diam yang Tak Sekedar Diam

Apa yang pertama kali kita pikirkan ketika mendengar kata “Diam”? Apakah Diam itu adalah sesuatu yang berhenti, yang tidak memberikan dampak pada sebuah sistem? Mungkin iya. Tapi pernahkan kita memikirkan bahwa ada sesuatu yang diam di dalam diri kita namun dalam kenyataannya sangat berdampak pada diri kita sendiri? Sesuatu yang disebut ketidaksadaran, tapi banyak menyetir wilayah sadar.

Tentang suatu pengalaman-pengalaman yang pernah disadari, tetapi kemudian dilupakan atau terabaikan, dan pengalaman-pengalaman yang terlalu lemah untuk menciptakan kesan sadar pada manusia. Ini saya menyebutnya koleksi bawah sadar, folder database bawah sadar atau endapan bawah sadar. Tanpa kita sadari, hal-hal tersebut jarang muncul di wilayah kesadaran kita, alias diam. Tapi banyak menentukan perilaku kita.

Ketika kita membaca buku, apakah sepenuhnya kita ingat, tahu, dan paham apa yang baru saja kita baca? Berdasarkan pengalaman pribadi saya tidak bisa sepenuhnya ingat, tahu, dan paham. Lantas apakah hal-hal yang kita baca itu sia-sia? Tentu tidak, semua masuk di wilayah bawah sadar, menjadi endapan bawah sadar. Pada momentum tertentu, biasanya endapan ini muncul dan menentukan apa-apa yang akan kita lakukan. Ia diam, tapi justeru sering menyetir wilayah sadar kita. Sama halnya dengan trauma-trauma yang dialami tiap manusia.

Dalam kasus sikap manusia misalnya, ada orang yang disenggol saja gampang marah. Kita yang nyenggol kadang kebingungan, “Kenapa orang ini marahan begini?”. Kita harus menyadari bahwa ekspresi marahnya orang tersebut bisa jadi karena pengalaman pribadinya, yang sering dimarahi orang tuanya dan sebagainya. Sehingga ketika disenggol, responnya langsung meniru berdasarkan pengalamannya tersebut.

Dari kejadian ini kita juga harus memahami tentang kompleksitas pengetahuan. Istilah marah dalam diri manusia itu kompleks, ada marah yang kita pahami dari cara marahnya orang tua, teman kita, bahkan diri kita sendiri, dan istilah marah dari pengalaman-pengalaman tertentu seperti dari membaca buku. Ini terstruktur menjadi satu pandangan tentang marah. Tapi kita sering tidak menyadarinya.

Saya makin kesini makin teringat dengan konsep Sigmund Freud tentang struktur psikologis manusia, atau teori psikoanalisis, ada tiga elemen penting yakni Id, Ego, dan Superego. Id adalah wilayah yang merepresentasikan kebutuhan dasar alamiah manusia seperti makan dan minum. Id bekerja sesuai prinsip kesenangan dan mencari kepuasan secara instan terhadap keinginan dan kebutuhan. Misalnya ketika dalam sebuah kegiatan seminar kita merasa haus, dan kita langsung menuju kantin untuk minum. Jika ini tidak terpenuhi maka akan timbul rasa cemas.

Sedangkan Ego adalah sesuatu yang berurusan dengan realita. Ego berusaha memenuhi keinginan Id secara kultur sosial atau dapat diterima secara sosial. Ego mengerti bahwa orang lain juga memiliki keinginan dan kebutuhan. Jadi, apa yang di inginkan Id masih dipertimbangkan. Misalnya dalam kegiatan tadi, ketika kita merasa haus, kita masih menunggu seminar selesai dulu untuk kemudian minum, atau percaya bahwa nanti akan ada panitia yang datang memberi minum. Ego menunda kepuasan manusia tersebut dan membantu menghilangkan kecemasan.

Selain itu, Superego adalah aspek moral dari suatu kepribadian yang didapat dari belajar, mulai dari orang tua yang mengasuh atau dari norma atau nilai pada sistem masyarakat yang didasarkan pada moral dan penilaian tentang benar dan salah. Hampir sama dengan Ego, namun bedanya di Superego keputusan diambil berdasarkan pada nilai-nilai moral.

Dari tiga elemen ini, hal-hal yang berkaitan dengan diam yang tak sekedar diam persis seperti elemen Id, wilayah yang tidak terlihat, tapi justeru banyak menentukan apa-apa yang dilakukan oleh manusia. Sesuatu yang kita tidak tahu, tidak muncul dalam kesadaran kita, tapi dia ikut nyetir kesadaran kita.

Categories
Opini Read

Berpikir Etis dan Paradigma-Paradigmanya

Kalau misal ditanya, “Berpikir dulu baru melakukan, atau melakukan dulu baru berpikir?” mana yang lebih tepat untuk menunjukan realita yang terjadi pada manusia? Mari berpikir. Mari menentukan jawaban. Kita harus berpikir untuk menentukan jawaban tersebut. Entah menjawab berpikir dulu atau berpikir setelah melakukan sesuatu (mengevaluasi). Kita tidak bisa lepas dari soal berpikir, apalagi dalam menentukan pilihan-pilihan dalam kehidupan ini.

Ada tiga kemampuan berpikir yang saya pahami, yakni berpikir kritis, berpikir kreatif, dan berpikir etis. Pada kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif, umumnya dilakukan untuk menentukan suatu kebenaran yang logis / rasional / masuk akal, menentukan mana benar dan mana salah. Namun pada berpikir etis lebih berbeda, sebab ada pertimbangan moral yang harus dipilih. Tidak berhenti pada soal mana benar dan mana salah, tapi juga pada pertimbangan mana baik dan mana buruk.

Sebab, ada hal-hal yang secara logis benar (rasional), tapi dalam realitanya malah meleset, alias berdampak buruk. Atau sering kali dalam kejadian yang secara etik buruk dilakukan, namun justifikasi rasional mampu membenarkan apa yang dilakukan tersebut. Misalnya, saat ujian akhir teman kita kedapatan mencontek, ketika ditanya kenapa mencontek ia menjawab, “Wah dosennya yang nggak bener ini, soalnya apa yang diajarkan dan apa yang di ujikan beda.”

Justifikasi tersebut secara rasional benar, meskipun apa yang dilakukan buruk. Inilah yang kemudian menjadi pengetahuan baru, bahwa rasio memiliki kelemahan, apa yang salah kadang kala tetap dicarikan argumen / justifikasi pembenarannya. Maka dalam kejadian-kejadian seperti itu diperlukan kemampuan berpikir etis, untuk lebih detail bagaimana menentukan pilihan yang tak hanya sekedar benar dan salah, tapi juga baik dan buruknya.

Dalam berpikir etis ada 3 framework atau paradigma yang sering digunakan, pertama adalah Teological Ethic, kedua adalah Deontologi Ethic, dan ketiga adalah Virtue Ethic. Ketiganya memiliki perbedaan mendasar tentang bagaimana sudut pandang etisnya ditentukan.

Teological Ethic

Teological Ethic adalah framework berpikir etis yang melihat pada hasil atau output-nya, tanpa mempedulikan proses yang terjadi. Misalnya pada kasus kegiatan seminar astronomi disuatu kampus, ada seseorang yang berkata, “Sudahlah datang saja, yang penting kamu kesana dapat ilmu baru tentang astronomi.” Ini adalah paradigma Teological Ethic, apa yang terjadi nantinya di seminar (meskipun datang telat, dan sebagainya) tidak dipertimbangkan.

Framework ini jelas bahwa fokusnya ada pada tujuan, jika dalam setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup ini belum sesuai dengan apa yang ingin kita tuju, maka artinya apa yang kita lakukan belum tepat dan benar, belum baik untuk diri kita. Pada kasus di atas, jika setelah seminar orang tersebut tidak tahu tentang ilmu astronomi, berarti apa yang dilakukannya adalah keliru atau salah.

Deontological Ethic

Deontological Ethic adalah framework berpikir etis yang melihat pada sudut prosesnya, tanpa peduli pada hasil atau output (alias pasrah). Misalnya pada kasus seminar yang sama, seseorang berkata, “Sudahlah yang penting itu datang dan belajar, soal nanti dapat ilmu atau tidak biarkan yang maha kuasa.” Ini framework Deontological Ethic, fokus pada proses atau kewajiban-kewajiban/pertimbangan moral yang dilakukan, soal apa nanti output-nya, pasrahkan saja.

Soal paradigma ini, contoh kasus lain misalnya pada bagian panitia anggaran seminar diatas, ketua panitianya berkata, “Nanti kamu buat SPJ-nya yang jujur, sesuai dengan pengeluaran,” poinnya ada pada kewajiban jujur, moral jujurnya, apapun dampak yang terjadi dari kejujuran itu, dipasrahkan saja pada yang kuasa, yang penting kewajiban moralnya sudah benar dan baik.

Virtue Ethic

Virtue Ethic atau etika kebajikan adalah framework berpikir etis yang melihat pada karakter atau orangnya. Misalnya kita akan memberikan kepercayaan kepada seseorang, lalu timbul satu pertanyaan, “Apakah orang ini bisa dipercaya?” Sudut pandang kita ada pada sisi orangnya. Dan ternyata orang ini karakternya jujur, maka keputusan yang kita ambil untuk mempercayainya sudah pasti tepat, sebab orang tersebut tidak akan menabrak prinsip-prinsip kejujuran.

Jadi, pada paradigma Virtue Ethic ini, asumsinya adalah orang-orang yang sudah terbangun karakter pada dirinya adalah orang yang baik, maka yang dilakukan pasti baik. Jika orangnya berani, maka dia tidak akan menabrak prinsip-prinsip keberanian. Jika orangnya suka berbohong, maka dia pasti menabrak prinsip-prinsip kejujuran, dan seterusnya, sehingga keputusan kita ditentukan dari karakter-karakter orang tersebut.

Tiga framework atau paradigma inilah yang biasa digunakan dalam berpikir etis. Mungkin dalam kejadian tertentu, kita sering menggunakan satu diantara tiga paradigma diatas, tapi baru menyadari setelah membaca tulisan ini.

Setidaknya dari apa yang sudah dituliskan ini, kita bisa mengkategorikan orang-orang yang sering kali berpikir dalam framework-framework di atas. Kita juga tidak kaget ketika kita bertemu orang yang menentukan pilihannya hanya fokus pada hasilnya, pada kewajiban moralnya (atau prosesnya), dan orang yang menentukan pilihan berdasarkan karakter-karakter tertentu. Dan satu lagi, kita tidak jadi orang yang nggumunan.

Categories
Opini Read

Taksonomi Bloom dan Tujuan Pendidikan di Ranah Afektif

Sudah cukup lama saya tidak melanjutkan serial belajar Taksonomi Bloom. Terakhir kali saya menulis tentang Bloom adalah artikel berjudul Taksonomi Bloom dan Tujuan Pendidikan pada Ranah Kognitif yang terpublish pada tanggal 22 Oktober 2018. Artinya sudah hampir 3 tahun saya tidak melanjutkannya. Kini saya kembali mempelajari, lalu mencoba untuk menuliskannya kembali secara kontinyu.

Bukan tanpa alasan untuk kembali mempelajari konsep Benjamin Bloom. Di momentum seperti ini, di masa bagaimana pendidikan mengalami sebuah sistem yang berbeda. Di masa ketika kita bertumbuh dan berkembang dari rumah, belajar menggunakan sistem daring tanpa ada pertemuan. Tentu ini ada dampak positifnya, tapi tak menutup kemungkinan juga dampak negatifnya. Tapi bagaimanapun sistem yang sedang digunakan pada pendidikan saat ini, saya kira konsep Bloom kembali mengingatkan kita untuk menemukan titik ideal bagaimana seharusnya output dari pendidikan itu sendiri.

Pada seri tulisan sebelumnya, setidaknya kita belajar bahwa tujuan pendidikan di ranah kognitif membuat kita mampu meningkatkan level akal secara berjenjang. Mulai dari level terendah sekedar cukup tahu tentang pengetahuan, sampai pada level puncak bagaimana mengevaluasi sebuah ilmu-pengetahuan itu sendiri.

Pada tulisan ini saya akan mengajak belajar lagi bagaimana Tujuan Pendidikan pada Ranah Afektif. Pada ranah ini, fokusnya ada pada sikap atau attitude. Bloom mencoba menjelaskan lima tingkatan Tujuan Pendidikan pada Ranah Afektif, yang pada akhirnya, pendidikan seharusnya mampu membentuk setiap individu menjadi makhluk yang berkarakter.

Tujuan Pendidikan Pada Ranah Afektif

Bloom membagi tingkatan tujuan pendidikan pada ranah afektif ini menjadi lima bagian, pada level paling rendah tujuan pendidikan di ranah afektif adalah membuat kita mampu menerima, lalu responsif, selanjutnya mampu menghargai, kemudian kerjasama (harmoni), dan level puncaknya adalah berkarakter.

  1. Penerimaan
    Pada level ini pendidikan harusnya mampu membuat setiap orang untuk menerima. Maksudnya mampu membuka diri terhadap segala sesuatu. Mampu membuka diri terhadap orang lain dan pada setiap ilmu pengetahuan baru. Pada praktik keseharian misalnya, kita mampu menerima belajar dengan orang yang justeru membosankan, mampu menerima belajar dengan orang yang secara formal pendidikan di bawah kita, bagaimanapun kondisinya batin kita harus mampu menerima. Sebab akan selalu ada ilmu baru dari setiap penerimaan pada siapa dan apapun.
  2. Responsif
    Ketika kita sudah selesai pada level penerimaan/menerima, maka sikap kita yang harus ditumbuhkan adalah responsif. Seperti apakah kita setuju pada konsep atau pengetahuan yang di utarakan seseorang? Apakah kita akan mengaplikasikan sebuah masukan dari seseorang atau tidak? Apakah kita akan menganalisis sebuah pengetahuan tersebut atau tidak. Kita harus merespon, harus menanggapi. Pada prosesnya, setiap penerimaan yang direspon adalah bentuk sikap peduli terhadap apa yang diberikan, dalam hal ini ilmu-pengetahuan.
  3. Menghargai
    Level selanjutnya adalah menghargai. Tujuan pendidikan di ranah sikap harusnya membuat kita mampu menghargai. Di level ini, kita sudah bisa menemukan sebuah value (nilai) dari penerimaan dan respon, “ohh ini baik buat saya, ohh ini buruk buat saya,” ,”ohh ini cocok deh, ohh ini nggak cocok deh,” kita mampu menilai untuk kebaikan diri, dan tetap menghargai.
  4. Kerjasama / Harmoni
    Ketika sudah mencapai level mampu menghargai, maka sikap yang harus timbul selanjutnya adalah harmoni, mampu bekerjasama. Bukan untuk menang-menangan sendiri. Di level ini kita sudah menemukan nilai yang disepakati bersama. Maka kita mampu untuk srawung, hidup bersama, mampu menyelesaikan segala persoalan secara bersama/kolektif.
  5. Karakterisasi
    Ini adalah level puncak dari Ranah Afektif yang dikemukakan Bloom, yaitu Karakterisasi. Ini seperti apa yang sering kita sebut sebagai Pendidikan Karakter. Di level ini pendidikan membentuk diri kita secara ideal. Kita sudah terbentuk, menjadi pribadi yang berkarakter, sosok yang cerdas, soleh, kreatif dan sebagainya.

Dari lima level tujuan pendidikan di ranah afektif yang dikemukakan Bloom ini, kesimpulan saya adalah, ini merupakan sebuah seni mengolah tingkatan level batin. Kalau di ranah sebelumnya akal kita yang belajar, di ranah ini batin kita yang belajar, belajar untuk mampu menerima, mampu tidak cuek (alias responsif), mampu menghargai, mampu bekerjasama (alias gampang srawung [Jawa:hidup/melakukan secara bersama]) dan berkarakter baik.

Tapi kemudian setelah saya hendak menyelesaikan tulisan ini, timbul satu pertanyaan, selama beberapa tahun belajar terus via daring yang tentu saja memiliki hambatan sinyal ndut-ndutan, noise, dan distraksi fokus pada layar pembicara (yang gonta-ganti), apakah kita sudah sepenuhnya mampu menerapkan level menerima, responsif, dan menghargai? Tiga level itu saja, apakah kita sudah selesai?

Categories
Opini Read

Kaum Pembelajar

Setiap tempat adalah sekolah, siapapun orang adalah guru. Ini adalah prinsip bagi manusia yang merasa dirinya adalah kaum pembelajar. Saya selalu berusaha pada titik tersebut, menjadi kaum pembelajar, tak peduli dimana saya, tak peduli dengan siapa saya, yang penting belajar.

Sejatinya setiap manusia adalah makhluk bodoh, contohnya saya. Saya ini makhluk yang terus berusaha untuk sadar akan bodohnya diri sendiri. Meski kadang malah lupa diri. Sadar bahwa saya sebagai manusia itu tak ada hebat-hebatnya, atau bahasa kerennya saya ini makhluk yang tidak sempurna. Saya, barangkali bisa menguasai tentang sesuatu, lalu terlihat pintar karena bisa melakukan sesuatu tersebut.

Tapi, kemudian saya toh sadar, bahwa saya ini akan terlihat bodoh oleh manusia lain yang juga menguasai tentang sesuatu sedangkan saya sendiri tidak menguasainya. Saya akan terlihat bodoh olehnya karena tidak bisa melakukan apa yang dia bisa, pun sebaliknya. Tapi, bagi kaum pembelajar, sudut pandang / kesadaran bodoh tersebut justeru malah menyatukan saya dengannya. Tak peduli apapun identitasnya.

Lha wong setiap orang adalah guru tho? Yang disebut guru itu bukan hanya orang yang berprofesi saja, tapi semua manusia. Bagi saya, setiap manusia selalu punya cerita menarik. Cerita yang tentu bersumber pada pengalaman hidupnya, entah itu dinamika kehidupannya disebuah persipangan, atau dinamika olah pikirnya dalam setiap bacaan. Semua punya cerita hebat dengan standar seleranya masing-masing.

Pada setiap cerita, pasti selalu ada pengetahuan. Maka, setiap orang yang bercerita pada dasarnya sedang mentransfer pengetahuan. Sebagai kaum pembelajar, sudah seharusnya untuk tidak menyepelekan tentang cerita. Pahami dan dengar baik-baik apa ceritanya, bukan pada siapa dia yang sedang bercerita. Sebab substansinya bukan pada identitas perseorangan.

Selebihnya, pada setiap cerita (pengetahuan) yang kita dengarkan baik-baik, kita harus memberi ruang kebebasan bagi akal, agar memberi sudut pandang yang baik pada setiap cerita yang didengar. Sebagai kaum pembelajar, kita tak perlu membatasi diri untuk belajar kepada siapa, apapun identitasnya, dan jangan berhenti pada titik yang sama, belajar itu dimana saja. Mari terus belajar. Terus perbanyak belajar untuk memperolah banyak sudut pandang.

Categories
Opini Read

Cermin dan Sudut Pandang

Pagi ini, di sebuah rumah kecil yang berdiri puluhan tahun. Saya berada di titik paling belakang rumah tersebut. Di dapur, di sinilah saya dan kedua orang tua saya saling ketemu setelah selesai ubyek sendiri-sendiri. Mamak selesai masak untuk sarapan pagi ini, bapak selesai beresan kebun sedangkan saya baru saja selesai desain produk.

Saya ke dapur hendak mengisi ulang botol minum yang sudah habis. Bapak sudah berada di meja belakang untuk sarapan. Ibu yang sudah selesai berkarya mengombinasikan genjer dengan tempe menjadi sayur penuh cinta, kini ia pergi ke ruang depan bersama adik saya yang sibuk ngemil jajanan lebaran.

Sembari menunggu penuhnya air yang saya isi, mata saya tertuju pada sebuah cermin besar pada lemari. Lemari tersebut terletak tepat di belakang meja makan yang bapak tempati. Bapak yang kini sedang asyik menikmati sarapan tanpa menggunakan bantuan sendok, tampak begitu jelas dari cermin tersebut.

Cermin, apa yang menarik dari cermin itu? Kita semua tahu bahwa cermin adalah kaca bening yang salah satu mukanya di cat dengan air raksa dan sebagaiannya memperliatkan bayangan setiap objek yang ditaruh di depannya. Kebetulan bapak sedang di depan cermin, dan saya menemukan dunia lain yang berada di balik cermin itu. Dunia terbalik.

Sebuah fakta yang umum diketahui, cermin selalu membalikkan realita. Sederhananya, bapak sedang sarapan menggunakan tangan kanannya, nikmat sekali, begitupun dengan minumnya. Tapi, ketika di lihat dari cermin semuanya terbalik. Bapak terlihat menikmati makanan dengan tangan kirinya.

Ada nilai etika yang berbeda di antara keduanya. Pada dunia cermin, bapak secara etika jelas kurang baik karena makan menggunakan tangan kiri. Etika pada dunia cermin ini mengingatkan saya pada persoalan sudut pandang. Kenapa? Karena dalam sudut pandang semua bisa di bolak-balik, yang harusnya biasa saja jadi luar biasa (berlebihan). Sebab sudut pandang selalu tergantung pada selera, tergantung pada cermin apa yang digunakan.

Pada suatu waktu kita berada di dunia sebenarnya, pada dunia yang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri. Nah, semua persoalan yang ada di dunia tersebut kita, kita pikirkan dan tafsirkan dengan sudut pandang, untuk mendapatkan sebuah pemaknaan pada setiap peristiwa.

Misalnya cermin di dapur saya ini, saya sebut sebagai sudut pandang orang lain, bukan sudut pandang saya selaku individu. Saya lihat langsung bahwa bapak makan dengan tangan kanannya, tapi datang atau ada sesuatu yang memberi saya sudut pandang berbeda, si cermin ini. Bapak ternyata makan dengan tangan kiri.

Fakta satu, mata saya melihat bapak makan dengan tangan kanan. Fakta dua, mata saya melihat (dan dirangsang cermin) bahwa bapak maksn dengan tangan kiri. Keduanya jelas benar. Tapi bagaimana kalau saya taklid pada pemaknaan atas apa yang ditampilkan cermin? Akan jadi masalah tentunya

Pada keadaan saya tersebut, saya baru berurusan dengan cermin datar, yang hanya menampilkan objek secara 180 derajat. Bagaimana jika dengan cermin cekung atau cermin cembung? Tentu ini akan menghasilkan pandangan yang lebih berbeda lagi, ada persoalan jarak dan perbedaan ukuran objek dengan bentuk-bentuk yang nyleneh.

Persoalan sudut padang memang menarik. Bagaimana akhirnya saya juga mengerti bahwa dalam kehidupan ini, orang yang punya sudut padang beragam, ada yang cekung (terlalu jauh dalam menilik persoalan), dan ada yang cembung (terlalu dekat dalam menilik persoalaan), atau datar dengan rasio beda 180 derajat tersebut. Yang jelas, setiap orang, bahkan diri kita sendiri pun punya sudut pandang itu, semua bisa dipergunakan sesuai seleranya masing-masing.

Categories
Opini Read

Covid-19 dan Peradaban Serba Online

Sudah sejak bulan Maret lalu, Covid-19 masuk ke wilayah Indonesia. Mulai dari 2 orang yang terkonfirmasi positif, hingga saat ini (28/04) dilansir dari situs Covid19.go.id sebanyak 9.096 orang dinyatakan positif Covid-19. Dan 765 orang telah meninggal dunia, sedangkan 1.151 orang dinyatakan sembuh.

Data secara global (27/04) menerangkan sebanyak 2.883.603 orang terkonfirmasi positif dan sebanyak 198.842 dari 213 negara dinyatakan telah meninggal dunia.

Makin hari data makin bertambah, Covid-19 menjelma menjadi sebuah teror maut di seluruh dunia. Maka wajar ketika kita semua berupaya melakukan beragam antisipasi pencegahan agar tidak terinfeksi virus berbahaya yang berasal dari Wuhan, China ini.

Mulai dari penyemprotan disinfektan, menjalankran protokol kesehatan, mengenakan masker sampai dengan kebiasaan mencuci tangan, menghindari kerumunan dan melakukan kegiatan kerja dirumah (Work Form Home) telah dilaksanakan.

Bahkan di bulan Ramadhan ini, tarawih yang biasanya dilakukan ramai berjamaah, kini di imbau untuk dilaksanakan dirumah saja. Tradisi telah berubah.

Berbagai antisipasi itu lantas menciptakan sebuah perubahan yang drastis. Rapat-rapat kini dilakukan secara daring, kuliah juga dilakukan secara daring, bahkan tukang sayur pun menawarkan dagangannya melalui daring (media sosial).

Ini perubahan yang saya katakan terpaksa, kenapa? Meski sebenarnya metode daring sudah bisa dilakukan sejak dulu (untuk sebuah keefektifan kinerja-tidak ribet), kini imbauan pemerintah memaksa kita untuk tetap survive, tetap produktif kegiatan meski tidak diperbolehkan menciptakan kerumuman, pun di imbau agar senantiasa dirumah saja.

Sistem sekolah harus tetap berjalan, sistem kuliah juga harus berjalan, kerjaan kantor harus tetap dilaksanakan, dagangan-dagangan tetap harus dijual, dan kegiatan apapun tetap harus dilakukan (meski beberapa kegiatan banyak ditunda). Semua harus berjalan, tanpa harus melibatkan banyak kerumuman manusia, dan meminimalisir kontak fisik.

Satu-satunya kerumuman yang bisa dinikmati manusia tanpa repot adanya kontak fisik (yang diwaspadai bisa menularkan Covid19) adalah dengan melakukan segala sesuatunya secara online. Rama-ramai orang mulai menggunakan aplikasi Zoom, Google Meet dan aplikasi-aplikasi meeting online.

Anak-anak sekolah belajar di rumah dengan metode daring, mulai dari pemanfaatan aplikasi Ruangguru hingga metode audio visual dengan menonton tayangan televisi di TVRI dan para mahasiswa memanfaatkan kelas-kelas online di Google Classroom.

Tak bisa dipungkiri pandemi ini memaksa yang tadinya berbagai aktivitas harus dilakukan di luar rumah, kini kondisi memaksa kita untuk tetap produktif menjalankan sistem di rumah.

Bagi saya, masa Covid-19 ini adalah masa peralihan, apa-apa kini serba daring (online). Beberapa dampak positif bisa diperoleh, misalnya para pedagang yang tadinya hanya memiliki relasi pembeli secara offline, kini memiliki jaringan secara online.

Belum lagi kantor-kantor yang melakukan rapat daring, anggaran benar-benar bisa dipangkas, sebab rapat bisa dilakukan dengan mudah, dirumah saja tanpa ada muluk-muluk anggaran besar (makan+transport). Pandemi Covid-19 telah memaksa kita, manusia, untuk masuk ke sebuah peradaban yang serba online.

Apakah kita akan terbiasa dengan peradaban online ini? Kalau salah satu solusi terbaiknya harus begitu, akahkah kita mampu beradaptasi? Kita kali ini telah masuk di peradaban dengan relung kehidupan yang serba baru; digital, cyber, virtual, cloud dan sejenisnya.

Categories
Opini Read

Membayangkan Masa Depan

Apa yang menarik di dunia ini untuk di pahami? Bagi saya ada tiga hal yang penting, yakni apa itu yang disebut filosofis, matematis, dan imajinatif. Kalau sudah paham, tiga hal tersebut merupakan instrumen yang menarik untuk memahami segala sesuatu yang ada di dunia ini. Bagi saya akan menarik jika bisa menilai sesuatu dengan sudut pandang filosofis, lalu diperhitungkan secara matematis, dan berpikir kreatif dengan imajinatif.

Berimajinasi atau membayangkan sesuatu adalah hal yang sungguh mengasyikan. Joko Pinurbo menuliskan, “…, Ada apa dengan mata saya, kok sering terbalik; tidak melihat yang kelihatan, malah melihat yang tak kelihatan…,” begitulah jika mata dipejamkan. Kita bisa melihat segala sesuatu lebih banyak dan bebas bahkan ketika sedang terpejam.

Di pagi yang masih mendung ini, ditemani kopi hangat buatan sang adik, saya masih teringat betul bagaimana film-film fiksi ilmiah membuat saya sering membayangkan masa depan. Sebuah masa dimana teknologi sudah menjadi makanan yang renyah bagi umat manusia.

Pernah menonton film Elysium? Film fiksi ilmiah yang rilis pada tahun 2013 ini kembali saya tonton di penghujung tahun 2019. Sebuah film yang menceritakan tentang dua peradaban yang berbeda. Masyarakat miskin dan elit kaya, dua hal yang berbeda cara hidupnya, kontras.

Kelompok manusia miskin hidup di bumi yang sudah sekarat dengan banyaknya wabah penyakit, pokoknya hidup serba semwarut. Sedangkan elit-elit kaya menciptakan dunianya sendiri di orbit bumi, sebuah tempat bernama Elysium (Bumi baru, buatan manusia sendiri).

Di Elysium, teknologi sudah sangat maju, bahkan untuk menyembuhkan penyakit orang cukup masuk ke dalam kapsul penyembuh, lalu dalam hitungan detik penyakit akan discan lalu sembuh total. Inilah yang saya kira sebagai puncak dari Biotek.

Yang menarik lagi dalam film ini adalah tentang misi salah satu menteri yang ingin mengambil alih kepemimpinan Elysium. Tahu bagaimana cara mengambil alihnya? Bukan lagi dengan memropaganda masa untuk demo dan menuntut mundur presiden Elysium saat itu, tapi cukup mencuri data seluruh sistem di Elysium dan merestart programnya dengan kepemimpinan yang baru.

Sederhana bukan? Tapi, di film ini data tersembut menjadi rebutan antara menteri yang ingin menguasai dengan kelompok penduduk miskin di bumi yang ingin menguasai (atas dasar semangat membantu manusia lainnya yang sedang sakit dan tak mampu pergi ke Elysium untuk disebuhkan).

Data tersebut menjadi inti dari film, diperebutan, sebab di Bumi baru bernama Elysium tersebut data seluruh sistem itu sudah terintegrasi langsung dengan data-data robot AI (Artificial Inteligence) di Elysium. Jadi siapa yang menguasai data tersebut dan menjadi presiden, maka berhak atas kuasa segala mesin canggih yang ada (sampai pada tentara robotnya), termasuk kapsul penyembuh segala penyakit itu.

Perihal data seluruh sistem Elysium tersebut yang menjadi rebutan, ada hal yang tak boleh luput dari perhatian, yakni perihal tempat yang menjadi penyimpanan data tersebut. Data tersebut disimpan langsung di dalam otak manusia, untuk kemudian di install ke sistem pusat data di Elysium juga melalui otak.

Pilihan data di simpan di dalam otak tak lain juga sebagai bentuk perlindungan diri. Sebab jika yang menyimpan data tersebut mati sebelum data terinstall ke dalam sistem Elysium, maka data akan ikut hangus beserta matinya orang tersebut. Maka dalam film ini, yang menyimpan data pantang untuk dibunuh.

Banyak hal bisa dipetik lalu dianalisis pada film ini. Saya justru membayangkan, akankah nanti dunia akan seperti dalam film Elysium? Saya mencoba menerka-nerka sembari melihat hal-hal apa saja yang sudah saya rasakan saat ini jauh sebelum (mungkin) tiba di masa bagaimana teknologi akan seperti pada film tersebut. Paling tidak tentang penyimpanan data, sebab data bisa sangat berharga ketimbang emas di era teknologi.

Penyimpanan Data dan Pentingnya Data

Kalau dalam film tersebut data sudah mampu disimpan di dalam otak manusia, sejauh saya mencari informasi, saat ini para ilmuan sudah menemukan solusi menyimpan data yang lebih efisien dari Disk yang ada, yakni DNA. Mengutip dari Vice Indonesia, “…Menurut penelitian ini, hasil kerja sama Erlich bersama Dina Zielinski dari New York Genome Center, menyimpan data di DNA lebih efisien dari percobaan sebelumnya. Data yang berhasil dimuat bisa mencapai 215.000.000 gigabyte pada satu gram DNA. Artinya jauh lebih besar dari batas kapasitas DVD yang hanya 8,5 GB atau iPhone sebesar 256 GB.”

Jauh sebelum manusia menemukan bahwa DNA bisa untuk menyimpan data, beberapa tempat penyimpanan data yang familiar bagi kita sudah banyak, diantaranya ada Disket, CD, VCD, DVD, Disk (Hardisk, Flashdisk, MicroSD) dan Cloud Online dengan kapasitas-kapasitas yang disediakan yang jauh lebih kecil dari storage di DNA.

Dari beberapa penyimpanan yang saya sebutkan, mana yang lebih sering kalian digunakan? Kalau saya pribadi lebih sering dengan Cloud Online. Sebab selain gratis, Cloud Online juga mengantisipasi saya kalau lupa membawa disk, sebab dimanapun saya berada, asal internet bisa diakses, berarti setiap data yang saya simpan akan selalu berada dengan saya.

Data adalah sesuatu yang sangat penting di abad ini. Paling sederhana saat ini misalnya adalah data nomor handphone. Ini penting sekali. Pernahkah kalian menerima SMS berhadiah jutaan rupiah dari nomor tak dikenal? Saya pernah, sudah tak terhitung malah, dan sering heran dari mana mereka bisa memberi notifikasi SMS tanpa tahu siapa saya?

Dulu, saya pernah ditawari sebuah bisnis online jual beli data, saya waktu itu masih SMA dan bingung. Saya pun menolak dan jauh lebih memilih menghabiskan uang untuk bermain game online PC di Warnet. Di dalam bisnis itu, setelah saya pahami, nantinya saya akan ditawari dan bisa memilih untuk memanfaatkan data yang mana, sebab ada data akun facebook, data akun twitter, data instagram, data email, dan data nomor handphone.

Barangkali, nomor-nomor yang memberi notif hadiah ke saya itu bisa mengetahui data nomor handphone saya, ya dari model bisnis tersebut. Barangkali ini benar. Lalu pertanyaannya, dari mana pemilik tersebut bisa mendapatkan banyak sekali data nomor handphone?

Sebelum terjawab, mari mulai bertanya lagi, seberapa banyak nomor HP telah kita cantumkan di akun media sosial? Bisa jadi karena kita pernah mengisi form-form online yang disediakan oleh pihak ketiga dari platform media sosial tersebut. Misalnya ikut nge-klik link yang menyediakan jasa edit foto, yang nantinya akan mengubah profil sosial media terlihat lebih tua dan lucu. Kita tertawa, tapi data diri/informasi kita, di ambil.

Pada kasus seperti ini, pengguna akan mendapatkan fasilitas pintarnya AI dalam membuat muka pengguna sosial media menjadi lebih tua dan lucu (pada kasus lain, biasanya menyebut bahwa pengguna sosial media alias kamu atau aku di ramal sebagai orang yang sabar, bijak dan lain-lainnya yang sebenarnya itu semua adalah sifat dasar manusia. Semua bisa punya sifat itu).

Secara tak langsung pemilik robot AI tersebut mendapatkan data / informasi kontak kita melalui sosial media yang digunakan, semuanya informasi kita. Sebab seringkali ada perintah untuk meng-‘izinkan’ sebelum menggunakan link pengubah wajah tersebut. Artinya izin untuk menerima segala informasi dari akun media sosial kita.

Data dan Penyimpanan data di era saat ini memang menjadi sesuatu yang berharga, sangat berharga. Pernah berdiskusi perihal ini, ketika masifnya tersebar Hoax ulang tahun ke 21 Google yang akan membagikan 100 Gb kuota gratis. Padahal setelah ditelusuri, ini merupakan trap untuk mendapatkan data diri nomor handphone pengguna internet.

Nomor hanphone tersebut, nantinya bisa dijual ke pihak-pihak yang menginginkan. Entah nanti digunakan untuk promosi atau kepentingan yang lain. Kita memberikan informasi kontak secara gratis kepada pihak lain lewat robot / link dengan iming-iming hadiah atau bahkan kelucuan dalam mengubah wajah, lalu penyedia atau pemiliknya mendapatkan banyak informasi kontak tersebutmu, lalu menjualnya dengan harga yang bisa saja fantastis.

Dalam skup kecil, data-data itu dijual dan dijadikan bisnis online serupa yang ditawarkan ke saya. Akhirnya saya membayangkan lagi, di tahun-tahun yang akan datang, dengan pesatnya perkembangan teknologi. Segala sesuatu akan dianggap sebagai data, dikomputasi dan dimainkan sesukanya. Bahkan bicaranya seseorang dalam sebuah seminar pengetahuan pun akan diangapp sebagai data penting untuk kemudian digunakan pada kepentingan tertentu.

Saya membayangkannya begini: “Ada ilmuan besar yang cerdas sekali. Cerdas lebih dari Einstein dan Hawking, dalam bidang ilmu apapun ia bisa. Lalu pada kesempatan terbuka, ia mengisi kuliah umum di kampus ternama. Banyak orang datang di sana, termasuk saya, lalu kami merekam semua yang dibicarakan ilmuan tersebut. Setelah direkam, semua pembicaraan ilmuan tersebut akhirnya menjadi file video berukuran 21 Gb. Kemudian saya punya software Converter penerjemah atau pengubah dari video menjadi mp3 (audio), jadilah sebuah mp3 yang hanya berukuran 21 Mb, lalu saya punya lagi software converter dari mp3 menjadi txt (teks biasa), jadilah berupa Txt berukuran 21Kb. Lebih kecil dan ringkas bukan? Lalu selanjutnya, mau saya apakan data informasi pengetahuan tersebut? Ternyata saya adalah orang yang sudah punya alat super canggih, yakni sistem penyimpanan data di dalam otak dengan cara menginstallnya langsung dan otomatis terintegrasikan dengan segala informasi yang ada di dalam otak saya. Pada keadaan ini, setelah instalasi informasi tersebut selesai, saya ternyata sudah lebih tahu dan paham seperti ilmuan tersebut. Tanpa ada lupa.”

Begitulah saya membayangkannya. Sekian.
__
Bukan tanpa alasan, beberapa hal yang saya temukan dan sering saya gunakan di abad ini:

  1. Google Voice (Menerjemahkan suara menjadi teks untuk penelusuran Google). Setiap harinya google menerima banyak perintah voice (keinginan manusia), lalu menyimpan data-data tersebut untuk kemudian dipahami bahwa ternyata orang lebih sering mencari dan butuh ini itu, lalu dibuatlah dalam perintah algoritmanya. Dan orang-orang semacam saya (Blogger) patuh dalam algoritma pencarian google.
  2. Shazam (Aplikasi penerjemah suara untuk menentukan ini lagu milik siapa). Dalam hitungan detik, aplikasi ini sudah mampu mendefisinkan dengan benar lewat suara musik yang di rekam, memberikan hasil bahwa ini merupakan musik/lagu miliknya ini atau itu. Bahkan hanya dengan instrumen musiknya saja sudah mengetahui.
  3. Memecah gambar menjadi teks koding yang kemudian disimpan ke Notepad. Hal ini menjadikan gambar lebih berukuran kecil, format .Jpg atau .Png biasanya berukuran 3Mb, sedang dalam bentuk teks (.txt) hanya berukuran 3Kb.
  4. Telponan audio selama satu jam lebih, ternyata tersimpan sebagai data hanya berurukan 21Mb. (Padahal di dalam obrolan telpon tersebut banyak sekali informasi yang kalau dituliskan dalam bentuk teks bisa puluhan ribu kata, bahkan ratusan ribu.)
Categories
Opini Read

Manusia, Robot, dan Data

Malam ini (11/11) bicara Film Interstellar. Film yang sebenarnya sudah direkomendasikan teman saya, Fandi Prayoga, sejak masa SMA. Tapi kala itu saya cuman ngerti nyampe dititik konsep Dilatasi Waktu. Naah, sejak kuliah dan mencium aroma filsafat lalu menjilat bahkan sampai menelannya, film ini jadi lebih menarik untuk dibicarakan lagi. Khususnya mengenai dunia atau ruang lima dimensi.

Jadi, semalam, di luar bahasan lima dimensi yang mulai jenuh (dan masih abstrak untuk di ceritakan) saya justeru menemukan sebuah keyword pehamanan yang sudah lama tak dipancing keluar. Perihal teks (data). Saya pernah ketemu kasus ketika menerima file backlink dari teman saya, Blogger Sumatera Barat, Nurhadi Bachtiar namanya. Filenya berekstensi Notepad (.txt) dan berukuran hanya 3Kb.

Di dalam file itu ada buanyaakk kata yang tersimpan (juga huruf-huruf yang jadi satu dalam bentuk link web/blog untuk backlink–istilah menyisipkan link ke web/blog lain). Buaanyakkk kata loh ya, yang kalau teks itu di paste di Ms Word, bisa Hang / Not Responding.

Teks itu pada akhirnya saya simpulkan menjadi data yang penting. Kenapa penting? Robot atau mesin saat ini, semuanya, diperintah berdasarkan teks (yang sudah di komputasi dalam bentuk coding/bahasa pemrograman).

Pikiran saya pun nakal. Saya ngebayangin data teks itu jika berisi data-data pemahaman manusia, entah itu cara masak, cara memahami ekspresi, pemahaman akan defisini dan data-data pengetahuan/pemahaman lainnya yang ditulis dalam bentuk teks dan di input ke Robot.

Data pengetahuan/pemahaman itu ditulis langsung oleh manusianya dengan otak yang sampai sempoyongan, tapi giliran di save ke dalam teks biasa (.txt), toh hanya menghasilkan data size yang super kecil sekali.

Naah, problemnya, Robot (Artificial Intelligence) itu kan bisa menyimpan banyak data. Yang bisa saja data robot itu jauh lebih banyak dan lengkap dari data (di otak manusia) yang diketahui/pahami dan dituliskan tadi.

Saya itu kepikiran lagi perihal data (dalam diri) manusia, mulai dari keinginan, rasa dan lainnya, yang sudah bisa di komputasi. Kalian pernah kan melihat artikel yang tiba-tiba memunculkan iklan barang yang ingin kalian beli? Itu salah satu contohnya.

Kalau pada akhirnya Robot itu berisi data-data yang lebih baik dan lebih banyak dari pada manusia (sedang data di dalam Robot itu nantinya bisa saling berkomunikasi sendiri dan menghasilkan Big Data- Super AI). Apakah bukannya disitu Robot > Manusia? Tapi di Film ini TARS si robot pintar masih berada dalam kendali/kuasa si Chooper.

Categories
Opini Read

Taksonomi Bloom dan Tujuan Pendidikan pada Ranah Kognitif

Setelah sebelumnya saya mengajak pembaca untuk belajar tentang Taksonomi Bloom dan Pendidikan Holistik (3H), kali ini saya akan melanjutkan lagi. Tentang Ranah Kognitif pada Taksonomi Bloom. Pada postingan sebelumnya saya menulis bahwa Taksonomi Bloom adalah pengkategorian cara untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan. Cara-cara dalam mencapai tujuan itu dibagi menjadi tiga ranah: Ranah Kognitif, Ranah Afektif dan Ranah Psikomotorik (atau disebut juga 3H: Head, Heart, Hand).

Pada Ranah Kognitif inilah Bloom mengritik metode belajar yang menurutnya kini lebih banyak dengan cara-cara hafalan. Seperti misalnya seorang siswa/mahasiswa yang sering diberi soal-soal ujian sekedar menyebutkan dan memberikan contoh, artinya hanya disuruh untuk menuliskan ingatannya (atau hafalannya). Bloom mengatakan bahwa hafalan adalah level tingkatan belajar yang paling rendah, namun bukan berarti hafalan merupakan cara yang salah.

Tujuan Pendidikan Pada Ranah Koognitif

Bagi Bloom, ada dua pengkategorian level tingkatan belajar (pada Ranah Kognitif), diantaranya level terbawah dan level tertinggi. Level terbawah dimulai dari Pengetahuan, Pemahaman dan Penerapan. Pada level tertinggi dimulai dari Analisis, Sintesis dan Evaluasi. Jika diurutkan tingakatan-tingkatan tersebut (dimulai dari 1 sebagai yang terendah): 1.Pengetahuan, 2.Pemahaman, 3.Penerapan, 4.Analisis, 5.Sintesis, 6.Evaluasi

Lalu apa saja maksud atau penjelasan dari ke enam tingkatan tersebut? Mari ikuti kasus sederhana saya ini: “Hari ini saya sedang belajar tentang Pancasila”. Pertanyaanya: Apa yang saya dapatkan dari belajar itu?

  1. Pengetahuan
    Level terendahnya adalah saya hanya sebatas tahu. Di level ini asal saya bisa menyebutkan kembali apa yang sudah saya pelajari tanpa ada kekurangan, saya berhasil menjadi tahu, mendapat pengetahuan. (Misalnya saya dengan mudah menjawab soal tentang: Sebutkan sila ketiga dan kedua dari Pancasila!).
  2. Pemahaman
    Satu tingkat diatas tahu adalah paham. Di level ini saya bisa memahami (dengan menyebutkan apa yang saya tahu melalui olahan/bahan ucapan versi saya sendiri tanpa mengurangi poin inti yang dipelajari).
  3. Penerapan
    Naik lagi setingkat dari paham adalah penerapkan. Pada level penerapan ini, apa yang sudah saya pelajari tentang Pancasila bisa menjadi sebuah kebiasaan atau dipraktekan pada kehidupan. Sebut saja level penerapan ini adalah memasukan konsep yang sudah dipelajari ke dalam kehidupan pribadi saya.
  4. Analisis
    Lanjut lagi pada level yang ke empat, yakni analisis. Di level analisis ini cara belajar saya tentang Pancasila sudah lebih dari sebatas untuk tahu, paham, dan diterapkan. Disini saya sudah bisa memisahkan mengenai konsep/unsur (apa saja yang ada dalam belajar Pancasila) ke beberapa bagian untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas. Misal saya paham sila pertama belajar tentang keagamaan, sila kedua belajar tentang kemanusiaan, sila ketiga belajar tentang persatuan dan pada Pancasila tersebut adalagi tentang butir-butir Pancasila. (Cara analisis ini biasanya digunakan untuk sebuah kritik dan akan menciptakan apa yang namanya Critical Thinking)
  5. Sintesis
    Level sistesis hampir sama dengan analisis, yakni bisa memisahkan unsur/konsep yang saya pelajari. Tapi di level ini, daya imajinatif saya yang lebih digunakan. Kalau di level analisis saya punya data tentang sila pertama, sila kedua dan sila ketiga serta butir-butir Pancasila, di level ini saya lebih bisa menggabungkannya (dengan daya imajinatif) dan menciptakan pemahaman baru. Misalnya apa hubungan sila pertama, sila kedua dan ketiga. (Cara sintesis ini biasa digunakan untuk memecahkan sebuah masalah, sebab dari masalah dibutuhkan sebuah solusi yang membuat manusia untuk berpikir kreatif (Creative Thinking) dari hal-hal yang sudah diketahui).
  6. Evaluasi
    Level paling tinggi adalah Evaluasi. Di level ini, semua yang sudah diketahui/dilakukan mulai dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis dan sintesis dikoreksi kembali dan dinilai. Apakah yang saya pelajari tentang Pancasila tersebut sudah benar?

Dari enam tingkatan level Ranah Kognitif Taksonomi Bloom tersebut, setidaknya saya mengerti kalau belajar itu bukan hanya sekedar tahu. Sebab sekedar tahu merupakan level terendah dari apa yang sudah saya pelajari. Belajar terus-terusan tapi hanya sekedar tahu kan ya rugi toh. Dari tulisan ini pun saya sejatinya belajar, belajar pada tingkatan paham, sebab saya mencoba menyampaikan ulang melalui bahasa saya sendiri. Tapi, lebih dari itu, belajar mengenai Taksonomi Bloom pada dasarnya membuat saya (munkin juga kalian) bertanya. “Sudah pada level berapa kemampuan belajar (kognitif) saya?”