Categories
Opini

Taksonomi Bloom dan Tujuan Pendidikan di Ranah Afektif

Sudah cukup lama saya tidak melanjutkan serial belajar Taksonomi Bloom. Terakhir kali saya menulis tentang Bloom adalah artikel berjudul Taksonomi Bloom dan Tujuan Pendidikan pada Ranah Kognitif yang terpublish pada tanggal 22 Oktober 2018. Artinya sudah hampir 3 tahun saya tidak melanjutkannya. Kini saya kembali mempelajari, lalu mencoba untuk menuliskannya kembali secara kontinyu.

Bukan tanpa alasan untuk kembali mempelajari konsep Benjamin Bloom. Di momentum seperti ini, di masa bagaimana pendidikan mengalami sebuah sistem yang berbeda. Di masa ketika kita bertumbuh dan berkembang dari rumah, belajar menggunakan sistem daring tanpa ada pertemuan. Tentu ini ada dampak positifnya, tapi tak menutup kemungkinan juga dampak negatifnya. Tapi bagaimanapun sistem yang sedang digunakan pada pendidikan saat ini, saya kira konsep Bloom kembali mengingatkan kita untuk menemukan titik ideal bagaimana seharusnya output dari pendidikan itu sendiri.

Pada seri tulisan sebelumnya, setidaknya kita belajar bahwa tujuan pendidikan di ranah kognitif membuat kita mampu meningkatkan level akal secara berjenjang. Mulai dari level terendah sekedar cukup tahu tentang pengetahuan, sampai pada level puncak bagaimana mengevaluasi sebuah ilmu-pengetahuan itu sendiri.

Pada tulisan ini saya akan mengajak belajar lagi bagaimana Tujuan Pendidikan pada Ranah Afektif. Pada ranah ini, fokusnya ada pada sikap atau attitude. Bloom mencoba menjelaskan lima tingkatan Tujuan Pendidikan pada Ranah Afektif, yang pada akhirnya, pendidikan seharusnya mampu membentuk setiap individu menjadi makhluk yang berkarakter.

Tujuan Pendidikan Pada Ranah Afektif

Bloom membagi tingkatan tujuan pendidikan pada ranah afektif ini menjadi lima bagian, pada level paling rendah tujuan pendidikan di ranah afektif adalah membuat kita mampu menerima, lalu responsif, selanjutnya mampu menghargai, kemudian kerjasama (harmoni), dan level puncaknya adalah berkarakter.

  1. Penerimaan
    Pada level ini pendidikan harusnya mampu membuat setiap orang untuk menerima. Maksudnya mampu membuka diri terhadap segala sesuatu. Mampu membuka diri terhadap orang lain dan pada setiap ilmu pengetahuan baru. Pada praktik keseharian misalnya, kita mampu menerima belajar dengan orang yang justeru membosankan, mampu menerima belajar dengan orang yang secara formal pendidikan di bawah kita, bagaimanapun kondisinya batin kita harus mampu menerima. Sebab akan selalu ada ilmu baru dari setiap penerimaan pada siapa dan apapun.
  2. Responsif
    Ketika kita sudah selesai pada level penerimaan/menerima, maka sikap kita yang harus ditumbuhkan adalah responsif. Seperti apakah kita setuju pada konsep atau pengetahuan yang di utarakan seseorang? Apakah kita akan mengaplikasikan sebuah masukan dari seseorang atau tidak? Apakah kita akan menganalisis sebuah pengetahuan tersebut atau tidak. Kita harus merespon, harus menanggapi. Pada prosesnya, setiap penerimaan yang direspon adalah bentuk sikap peduli terhadap apa yang diberikan, dalam hal ini ilmu-pengetahuan.
  3. Menghargai
    Level selanjutnya adalah menghargai. Tujuan pendidikan di ranah sikap harusnya membuat kita mampu menghargai. Di level ini, kita sudah bisa menemukan sebuah value (nilai) dari penerimaan dan respon, “ohh ini baik buat saya, ohh ini buruk buat saya,” ,”ohh ini cocok deh, ohh ini nggak cocok deh,” kita mampu menilai untuk kebaikan diri, dan tetap menghargai.
  4. Kerjasama / Harmoni
    Ketika sudah mencapai level mampu menghargai, maka sikap yang harus timbul selanjutnya adalah harmoni, mampu bekerjasama. Bukan untuk menang-menangan sendiri. Di level ini kita sudah menemukan nilai yang disepakati bersama. Maka kita mampu untuk srawung, hidup bersama, mampu menyelesaikan segala persoalan secara bersama/kolektif.
  5. Karakterisasi
    Ini adalah level puncak dari Ranah Afektif yang dikemukakan Bloom, yaitu Karakterisasi. Ini seperti apa yang sering kita sebut sebagai Pendidikan Karakter. Di level ini pendidikan membentuk diri kita secara ideal. Kita sudah terbentuk, menjadi pribadi yang berkarakter, sosok yang cerdas, soleh, kreatif dan sebagainya.

Dari lima level tujuan pendidikan di ranah afektif yang dikemukakan Bloom ini, kesimpulan saya adalah, ini merupakan sebuah seni mengolah tingkatan level batin. Kalau di ranah sebelumnya akal kita yang belajar, di ranah ini batin kita yang belajar, belajar untuk mampu menerima, mampu tidak cuek (alias responsif), mampu menghargai, mampu bekerjasama (alias gampang srawung [Jawa:hidup/melakukan secara bersama]) dan berkarakter baik.

Tapi kemudian setelah saya hendak menyelesaikan tulisan ini, timbul satu pertanyaan, selama beberapa tahun belajar terus via daring yang tentu saja memiliki hambatan sinyal ndut-ndutan, noise, dan distraksi fokus pada layar pembicara (yang gonta-ganti), apakah kita sudah sepenuhnya mampu menerapkan level menerima, responsif, dan menghargai? Tiga level itu saja, apakah kita sudah selesai?

Categories
Opini

Kaum Pembelajar

Setiap tempat adalah sekolah, siapapun orang adalah guru. Ini adalah prinsip bagi manusia yang merasa dirinya adalah kaum pembelajar. Saya selalu berusaha pada titik tersebut, menjadi kaum pembelajar, tak peduli dimana saya, tak peduli dengan siapa saya, yang penting belajar.

Sejatinya setiap manusia adalah makhluk bodoh, contohnya saya. Saya ini makhluk yang terus berusaha untuk sadar akan bodohnya diri sendiri. Meski kadang malah lupa diri. Sadar bahwa saya sebagai manusia itu tak ada hebat-hebatnya, atau bahasa kerennya saya ini makhluk yang tidak sempurna. Saya, barangkali bisa menguasai tentang sesuatu, lalu terlihat pintar karena bisa melakukan sesuatu tersebut.

Tapi, kemudian saya toh sadar, bahwa saya ini akan terlihat bodoh oleh manusia lain yang juga menguasai tentang sesuatu sedangkan saya sendiri tidak menguasainya. Saya akan terlihat bodoh olehnya karena tidak bisa melakukan apa yang dia bisa, pun sebaliknya. Tapi, bagi kaum pembelajar, sudut pandang / kesadaran bodoh tersebut justeru malah menyatukan saya dengannya. Tak peduli apapun identitasnya.

Lha wong setiap orang adalah guru tho? Yang disebut guru itu bukan hanya orang yang berprofesi saja, tapi semua manusia. Bagi saya, setiap manusia selalu punya cerita menarik. Cerita yang tentu bersumber pada pengalaman hidupnya, entah itu dinamika kehidupannya disebuah persipangan, atau dinamika olah pikirnya dalam setiap bacaan. Semua punya cerita hebat dengan standar seleranya masing-masing.

Pada setiap cerita, pasti selalu ada pengetahuan. Maka, setiap orang yang bercerita pada dasarnya sedang mentransfer pengetahuan. Sebagai kaum pembelajar, sudah seharusnya untuk tidak menyepelekan tentang cerita. Pahami dan dengar baik-baik apa ceritanya, bukan pada siapa dia yang sedang bercerita. Sebab substansinya bukan pada identitas perseorangan.

Selebihnya, pada setiap cerita (pengetahuan) yang kita dengarkan baik-baik, kita harus memberi ruang kebebasan bagi akal, agar memberi sudut pandang yang baik pada setiap cerita yang didengar. Sebagai kaum pembelajar, kita tak perlu membatasi diri untuk belajar kepada siapa, apapun identitasnya, dan jangan berhenti pada titik yang sama, belajar itu dimana saja. Mari terus belajar. Terus perbanyak belajar untuk memperolah banyak sudut pandang.

Categories
Opini

Cermin dan Sudut Pandang

Pagi ini, di sebuah rumah kecil yang berdiri puluhan tahun. Saya berada di titik paling belakang rumah tersebut. Di dapur, di sinilah saya dan kedua orang tua saya saling ketemu setelah selesai ubyek sendiri-sendiri. Mamak selesai masak untuk sarapan pagi ini, bapak selesai beresan kebun sedangkan saya baru saja selesai desain produk.

Saya ke dapur hendak mengisi ulang botol minum yang sudah habis. Bapak sudah berada di meja belakang untuk sarapan. Ibu yang sudah selesai berkarya mengombinasikan genjer dengan tempe menjadi sayur penuh cinta, kini ia pergi ke ruang depan bersama adik saya yang sibuk ngemil jajanan lebaran.

Sembari menunggu penuhnya air yang saya isi, mata saya tertuju pada sebuah cermin besar pada lemari. Lemari tersebut terletak tepat di belakang meja makan yang bapak tempati. Bapak yang kini sedang asyik menikmati sarapan tanpa menggunakan bantuan sendok, tampak begitu jelas dari cermin tersebut.

Cermin, apa yang menarik dari cermin itu? Kita semua tahu bahwa cermin adalah kaca bening yang salah satu mukanya di cat dengan air raksa dan sebagaiannya memperliatkan bayangan setiap objek yang ditaruh di depannya. Kebetulan bapak sedang di depan cermin, dan saya menemukan dunia lain yang berada di balik cermin itu. Dunia terbalik.

Sebuah fakta yang umum diketahui, cermin selalu membalikkan realita. Sederhananya, bapak sedang sarapan menggunakan tangan kanannya, nikmat sekali, begitupun dengan minumnya. Tapi, ketika di lihat dari cermin semuanya terbalik. Bapak terlihat menikmati makanan dengan tangan kirinya.

Ada nilai etika yang berbeda di antara keduanya. Pada dunia cermin, bapak secara etika jelas kurang baik karena makan menggunakan tangan kiri. Etika pada dunia cermin ini mengingatkan saya pada persoalan sudut pandang. Kenapa? Karena dalam sudut pandang semua bisa di bolak-balik, yang harusnya biasa saja jadi luar biasa (berlebihan). Sebab sudut pandang selalu tergantung pada selera, tergantung pada cermin apa yang digunakan.

Pada suatu waktu kita berada di dunia sebenarnya, pada dunia yang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri. Nah, semua persoalan yang ada di dunia tersebut kita, kita pikirkan dan tafsirkan dengan sudut pandang, untuk mendapatkan sebuah pemaknaan pada setiap peristiwa.

Misalnya cermin di dapur saya ini, saya sebut sebagai sudut pandang orang lain, bukan sudut pandang saya selaku individu. Saya lihat langsung bahwa bapak makan dengan tangan kanannya, tapi datang atau ada sesuatu yang memberi saya sudut pandang berbeda, si cermin ini. Bapak ternyata makan dengan tangan kiri.

Fakta satu, mata saya melihat bapak makan dengan tangan kanan. Fakta dua, mata saya melihat (dan dirangsang cermin) bahwa bapak maksn dengan tangan kiri. Keduanya jelas benar. Tapi bagaimana kalau saya taklid pada pemaknaan atas apa yang ditampilkan cermin? Akan jadi masalah tentunya

Pada keadaan saya tersebut, saya baru berurusan dengan cermin datar, yang hanya menampilkan objek secara 180 derajat. Bagaimana jika dengan cermin cekung atau cermin cembung? Tentu ini akan menghasilkan pandangan yang lebih berbeda lagi, ada persoalan jarak dan perbedaan ukuran objek dengan bentuk-bentuk yang nyleneh.

Persoalan sudut padang memang menarik. Bagaimana akhirnya saya juga mengerti bahwa dalam kehidupan ini, orang yang punya sudut padang beragam, ada yang cekung (terlalu jauh dalam menilik persoalan), dan ada yang cembung (terlalu dekat dalam menilik persoalaan), atau datar dengan rasio beda 180 derajat tersebut. Yang jelas, setiap orang, bahkan diri kita sendiri pun punya sudut pandang itu, semua bisa dipergunakan sesuai seleranya masing-masing.

Categories
Opini

Covid-19 dan Peradaban Serba Online

Sudah sejak bulan Maret lalu, Covid-19 masuk ke wilayah Indonesia. Mulai dari 2 orang yang terkonfirmasi positif, hingga saat ini (28/04) dilansir dari situs Covid19.go.id sebanyak 9.096 orang dinyatakan positif Covid-19. Dan 765 orang telah meninggal dunia, sedangkan 1.151 orang dinyatakan sembuh.

Data secara global (27/04) menerangkan sebanyak 2.883.603 orang terkonfirmasi positif dan sebanyak 198.842 dari 213 negara dinyatakan telah meninggal dunia.

Makin hari data makin bertambah, Covid-19 menjelma menjadi sebuah teror maut di seluruh dunia. Maka wajar ketika kita semua berupaya melakukan beragam antisipasi pencegahan agar tidak terinfeksi virus berbahaya yang berasal dari Wuhan, China ini.

Mulai dari penyemprotan disinfektan, menjalankran protokol kesehatan, mengenakan masker sampai dengan kebiasaan mencuci tangan, menghindari kerumunan dan melakukan kegiatan kerja dirumah (Work Form Home) telah dilaksanakan.

Bahkan di bulan Ramadhan ini, tarawih yang biasanya dilakukan ramai berjamaah, kini di imbau untuk dilaksanakan dirumah saja. Tradisi telah berubah.

Berbagai antisipasi itu lantas menciptakan sebuah perubahan yang drastis. Rapat-rapat kini dilakukan secara daring, kuliah juga dilakukan secara daring, bahkan tukang sayur pun menawarkan dagangannya melalui daring (media sosial).

Ini perubahan yang saya katakan terpaksa, kenapa? Meski sebenarnya metode daring sudah bisa dilakukan sejak dulu (untuk sebuah keefektifan kinerja-tidak ribet), kini imbauan pemerintah memaksa kita untuk tetap survive, tetap produktif kegiatan meski tidak diperbolehkan menciptakan kerumuman, pun di imbau agar senantiasa dirumah saja.

Sistem sekolah harus tetap berjalan, sistem kuliah juga harus berjalan, kerjaan kantor harus tetap dilaksanakan, dagangan-dagangan tetap harus dijual, dan kegiatan apapun tetap harus dilakukan (meski beberapa kegiatan banyak ditunda). Semua harus berjalan, tanpa harus melibatkan banyak kerumuman manusia, dan meminimalisir kontak fisik.

Satu-satunya kerumuman yang bisa dinikmati manusia tanpa repot adanya kontak fisik (yang diwaspadai bisa menularkan Covid19) adalah dengan melakukan segala sesuatunya secara online. Rama-ramai orang mulai menggunakan aplikasi Zoom, Google Meet dan aplikasi-aplikasi meeting online.

Anak-anak sekolah belajar di rumah dengan metode daring, mulai dari pemanfaatan aplikasi Ruangguru hingga metode audio visual dengan menonton tayangan televisi di TVRI dan para mahasiswa memanfaatkan kelas-kelas online di Google Classroom.

Tak bisa dipungkiri pandemi ini memaksa yang tadinya berbagai aktivitas harus dilakukan di luar rumah, kini kondisi memaksa kita untuk tetap produktif menjalankan sistem di rumah.

Bagi saya, masa Covid-19 ini adalah masa peralihan, apa-apa kini serba daring (online). Beberapa dampak positif bisa diperoleh, misalnya para pedagang yang tadinya hanya memiliki relasi pembeli secara offline, kini memiliki jaringan secara online.

Belum lagi kantor-kantor yang melakukan rapat daring, anggaran benar-benar bisa dipangkas, sebab rapat bisa dilakukan dengan mudah, dirumah saja tanpa ada muluk-muluk anggaran besar (makan+transport). Pandemi Covid-19 telah memaksa kita, manusia, untuk masuk ke sebuah peradaban yang serba online.

Apakah kita akan terbiasa dengan peradaban online ini? Kalau salah satu solusi terbaiknya harus begitu, akahkah kita mampu beradaptasi? Kita kali ini telah masuk di peradaban dengan relung kehidupan yang serba baru; digital, cyber, virtual, cloud dan sejenisnya.

Categories
Opini

Membayangkan Masa Depan

Apa yang menarik di dunia ini untuk di pahami? Bagi saya ada tiga hal yang penting, yakni apa itu yang disebut filosofis, matematis, dan imajinatif. Kalau sudah paham, tiga hal tersebut merupakan instrumen yang menarik untuk memahami segala sesuatu yang ada di dunia ini. Bagi saya akan menarik jika bisa menilai sesuatu dengan sudut pandang filosofis, lalu diperhitungkan secara matematis, dan berpikir kreatif dengan imajinatif.

Berimajinasi atau membayangkan sesuatu adalah hal yang sungguh mengasyikan. Joko Pinurbo menuliskan, “…, Ada apa dengan mata saya, kok sering terbalik; tidak melihat yang kelihatan, malah melihat yang tak kelihatan…,” begitulah jika mata dipejamkan. Kita bisa melihat segala sesuatu lebih banyak dan bebas bahkan ketika sedang terpejam.

Di pagi yang masih mendung ini, ditemani kopi hangat buatan sang adik, saya masih teringat betul bagaimana film-film fiksi ilmiah membuat saya sering membayangkan masa depan. Sebuah masa dimana teknologi sudah menjadi makanan yang renyah bagi umat manusia.

Pernah menonton film Elysium? Film fiksi ilmiah yang rilis pada tahun 2013 ini kembali saya tonton di penghujung tahun 2019. Sebuah film yang menceritakan tentang dua peradaban yang berbeda. Masyarakat miskin dan elit kaya, dua hal yang berbeda cara hidupnya, kontras.

Kelompok manusia miskin hidup di bumi yang sudah sekarat dengan banyaknya wabah penyakit, pokoknya hidup serba semwarut. Sedangkan elit-elit kaya menciptakan dunianya sendiri di orbit bumi, sebuah tempat bernama Elysium (Bumi baru, buatan manusia sendiri).

Di Elysium, teknologi sudah sangat maju, bahkan untuk menyembuhkan penyakit orang cukup masuk ke dalam kapsul penyembuh, lalu dalam hitungan detik penyakit akan discan lalu sembuh total. Inilah yang saya kira sebagai puncak dari Biotek.

Yang menarik lagi dalam film ini adalah tentang misi salah satu menteri yang ingin mengambil alih kepemimpinan Elysium. Tahu bagaimana cara mengambil alihnya? Bukan lagi dengan memropaganda masa untuk demo dan menuntut mundur presiden Elysium saat itu, tapi cukup mencuri data seluruh sistem di Elysium dan merestart programnya dengan kepemimpinan yang baru.

Sederhana bukan? Tapi, di film ini data tersembut menjadi rebutan antara menteri yang ingin menguasai dengan kelompok penduduk miskin di bumi yang ingin menguasai (atas dasar semangat membantu manusia lainnya yang sedang sakit dan tak mampu pergi ke Elysium untuk disebuhkan).

Data tersebut menjadi inti dari film, diperebutan, sebab di Bumi baru bernama Elysium tersebut data seluruh sistem itu sudah terintegrasi langsung dengan data-data robot AI (Artificial Inteligence) di Elysium. Jadi siapa yang menguasai data tersebut dan menjadi presiden, maka berhak atas kuasa segala mesin canggih yang ada (sampai pada tentara robotnya), termasuk kapsul penyembuh segala penyakit itu.

Perihal data seluruh sistem Elysium tersebut yang menjadi rebutan, ada hal yang tak boleh luput dari perhatian, yakni perihal tempat yang menjadi penyimpanan data tersebut. Data tersebut disimpan langsung di dalam otak manusia, untuk kemudian di install ke sistem pusat data di Elysium juga melalui otak.

Pilihan data di simpan di dalam otak tak lain juga sebagai bentuk perlindungan diri. Sebab jika yang menyimpan data tersebut mati sebelum data terinstall ke dalam sistem Elysium, maka data akan ikut hangus beserta matinya orang tersebut. Maka dalam film ini, yang menyimpan data pantang untuk dibunuh.

Banyak hal bisa dipetik lalu dianalisis pada film ini. Saya justru membayangkan, akankah nanti dunia akan seperti dalam film Elysium? Saya mencoba menerka-nerka sembari melihat hal-hal apa saja yang sudah saya rasakan saat ini jauh sebelum (mungkin) tiba di masa bagaimana teknologi akan seperti pada film tersebut. Paling tidak tentang penyimpanan data, sebab data bisa sangat berharga ketimbang emas di era teknologi.

Penyimpanan Data dan Pentingnya Data

Kalau dalam film tersebut data sudah mampu disimpan di dalam otak manusia, sejauh saya mencari informasi, saat ini para ilmuan sudah menemukan solusi menyimpan data yang lebih efisien dari Disk yang ada, yakni DNA. Mengutip dari Vice Indonesia, “…Menurut penelitian ini, hasil kerja sama Erlich bersama Dina Zielinski dari New York Genome Center, menyimpan data di DNA lebih efisien dari percobaan sebelumnya. Data yang berhasil dimuat bisa mencapai 215.000.000 gigabyte pada satu gram DNA. Artinya jauh lebih besar dari batas kapasitas DVD yang hanya 8,5 GB atau iPhone sebesar 256 GB.”

Jauh sebelum manusia menemukan bahwa DNA bisa untuk menyimpan data, beberapa tempat penyimpanan data yang familiar bagi kita sudah banyak, diantaranya ada Disket, CD, VCD, DVD, Disk (Hardisk, Flashdisk, MicroSD) dan Cloud Online dengan kapasitas-kapasitas yang disediakan yang jauh lebih kecil dari storage di DNA.

Dari beberapa penyimpanan yang saya sebutkan, mana yang lebih sering kalian digunakan? Kalau saya pribadi lebih sering dengan Cloud Online. Sebab selain gratis, Cloud Online juga mengantisipasi saya kalau lupa membawa disk, sebab dimanapun saya berada, asal internet bisa diakses, berarti setiap data yang saya simpan akan selalu berada dengan saya.

Data adalah sesuatu yang sangat penting di abad ini. Paling sederhana saat ini misalnya adalah data nomor handphone. Ini penting sekali. Pernahkah kalian menerima SMS berhadiah jutaan rupiah dari nomor tak dikenal? Saya pernah, sudah tak terhitung malah, dan sering heran dari mana mereka bisa memberi notifikasi SMS tanpa tahu siapa saya?

Dulu, saya pernah ditawari sebuah bisnis online jual beli data, saya waktu itu masih SMA dan bingung. Saya pun menolak dan jauh lebih memilih menghabiskan uang untuk bermain game online PC di Warnet. Di dalam bisnis itu, setelah saya pahami, nantinya saya akan ditawari dan bisa memilih untuk memanfaatkan data yang mana, sebab ada data akun facebook, data akun twitter, data instagram, data email, dan data nomor handphone.

Barangkali, nomor-nomor yang memberi notif hadiah ke saya itu bisa mengetahui data nomor handphone saya, ya dari model bisnis tersebut. Barangkali ini benar. Lalu pertanyaannya, dari mana pemilik tersebut bisa mendapatkan banyak sekali data nomor handphone?

Sebelum terjawab, mari mulai bertanya lagi, seberapa banyak nomor HP telah kita cantumkan di akun media sosial? Bisa jadi karena kita pernah mengisi form-form online yang disediakan oleh pihak ketiga dari platform media sosial tersebut. Misalnya ikut nge-klik link yang menyediakan jasa edit foto, yang nantinya akan mengubah profil sosial media terlihat lebih tua dan lucu. Kita tertawa, tapi data diri/informasi kita, di ambil.

Pada kasus seperti ini, pengguna akan mendapatkan fasilitas pintarnya AI dalam membuat muka pengguna sosial media menjadi lebih tua dan lucu (pada kasus lain, biasanya menyebut bahwa pengguna sosial media alias kamu atau aku di ramal sebagai orang yang sabar, bijak dan lain-lainnya yang sebenarnya itu semua adalah sifat dasar manusia. Semua bisa punya sifat itu).

Secara tak langsung pemilik robot AI tersebut mendapatkan data / informasi kontak kita melalui sosial media yang digunakan, semuanya informasi kita. Sebab seringkali ada perintah untuk meng-‘izinkan’ sebelum menggunakan link pengubah wajah tersebut. Artinya izin untuk menerima segala informasi dari akun media sosial kita.

Data dan Penyimpanan data di era saat ini memang menjadi sesuatu yang berharga, sangat berharga. Pernah berdiskusi perihal ini, ketika masifnya tersebar Hoax ulang tahun ke 21 Google yang akan membagikan 100 Gb kuota gratis. Padahal setelah ditelusuri, ini merupakan trap untuk mendapatkan data diri nomor handphone pengguna internet.

Nomor hanphone tersebut, nantinya bisa dijual ke pihak-pihak yang menginginkan. Entah nanti digunakan untuk promosi atau kepentingan yang lain. Kita memberikan informasi kontak secara gratis kepada pihak lain lewat robot / link dengan iming-iming hadiah atau bahkan kelucuan dalam mengubah wajah, lalu penyedia atau pemiliknya mendapatkan banyak informasi kontak tersebutmu, lalu menjualnya dengan harga yang bisa saja fantastis.

Dalam skup kecil, data-data itu dijual dan dijadikan bisnis online serupa yang ditawarkan ke saya. Akhirnya saya membayangkan lagi, di tahun-tahun yang akan datang, dengan pesatnya perkembangan teknologi. Segala sesuatu akan dianggap sebagai data, dikomputasi dan dimainkan sesukanya. Bahkan bicaranya seseorang dalam sebuah seminar pengetahuan pun akan diangapp sebagai data penting untuk kemudian digunakan pada kepentingan tertentu.

Saya membayangkannya begini: “Ada ilmuan besar yang cerdas sekali. Cerdas lebih dari Einstein dan Hawking, dalam bidang ilmu apapun ia bisa. Lalu pada kesempatan terbuka, ia mengisi kuliah umum di kampus ternama. Banyak orang datang di sana, termasuk saya, lalu kami merekam semua yang dibicarakan ilmuan tersebut. Setelah direkam, semua pembicaraan ilmuan tersebut akhirnya menjadi file video berukuran 21 Gb. Kemudian saya punya software Converter penerjemah atau pengubah dari video menjadi mp3 (audio), jadilah sebuah mp3 yang hanya berukuran 21 Mb, lalu saya punya lagi software converter dari mp3 menjadi txt (teks biasa), jadilah berupa Txt berukuran 21Kb. Lebih kecil dan ringkas bukan? Lalu selanjutnya, mau saya apakan data informasi pengetahuan tersebut? Ternyata saya adalah orang yang sudah punya alat super canggih, yakni sistem penyimpanan data di dalam otak dengan cara menginstallnya langsung dan otomatis terintegrasikan dengan segala informasi yang ada di dalam otak saya. Pada keadaan ini, setelah instalasi informasi tersebut selesai, saya ternyata sudah lebih tahu dan paham seperti ilmuan tersebut. Tanpa ada lupa.”

Begitulah saya membayangkannya. Sekian.
__
Bukan tanpa alasan, beberapa hal yang saya temukan dan sering saya gunakan di abad ini:

  1. Google Voice (Menerjemahkan suara menjadi teks untuk penelusuran Google). Setiap harinya google menerima banyak perintah voice (keinginan manusia), lalu menyimpan data-data tersebut untuk kemudian dipahami bahwa ternyata orang lebih sering mencari dan butuh ini itu, lalu dibuatlah dalam perintah algoritmanya. Dan orang-orang semacam saya (Blogger) patuh dalam algoritma pencarian google.
  2. Shazam (Aplikasi penerjemah suara untuk menentukan ini lagu milik siapa). Dalam hitungan detik, aplikasi ini sudah mampu mendefisinkan dengan benar lewat suara musik yang di rekam, memberikan hasil bahwa ini merupakan musik/lagu miliknya ini atau itu. Bahkan hanya dengan instrumen musiknya saja sudah mengetahui.
  3. Memecah gambar menjadi teks koding yang kemudian disimpan ke Notepad. Hal ini menjadikan gambar lebih berukuran kecil, format .Jpg atau .Png biasanya berukuran 3Mb, sedang dalam bentuk teks (.txt) hanya berukuran 3Kb.
  4. Telponan audio selama satu jam lebih, ternyata tersimpan sebagai data hanya berurukan 21Mb. (Padahal di dalam obrolan telpon tersebut banyak sekali informasi yang kalau dituliskan dalam bentuk teks bisa puluhan ribu kata, bahkan ratusan ribu.)
Categories
Opini

Manusia, Robot, dan Data

Malam ini (11/11) bicara Film Interstellar. Film yang sebenarnya sudah direkomendasikan teman saya, Fandi Prayoga, sejak masa SMA. Tapi kala itu saya cuman ngerti nyampe dititik konsep Dilatasi Waktu. Naah, sejak kuliah dan mencium aroma filsafat lalu menjilat bahkan sampai menelannya, film ini jadi lebih menarik untuk dibicarakan lagi. Khususnya mengenai dunia atau ruang lima dimensi.

Jadi, semalam, di luar bahasan lima dimensi yang mulai jenuh (dan masih abstrak untuk di ceritakan) saya justeru menemukan sebuah keyword pehamanan yang sudah lama tak dipancing keluar. Perihal teks (data). Saya pernah ketemu kasus ketika menerima file backlink dari teman saya, Blogger Sumatera Barat, Nurhadi Bachtiar namanya. Filenya berekstensi Notepad (.txt) dan berukuran hanya 3Kb.

Di dalam file itu ada buanyaakk kata yang tersimpan (juga huruf-huruf yang jadi satu dalam bentuk link web/blog untuk backlink–istilah menyisipkan link ke web/blog lain). Buaanyakkk kata loh ya, yang kalau teks itu di paste di Ms Word, bisa Hang / Not Responding.

Teks itu pada akhirnya saya simpulkan menjadi data yang penting. Kenapa penting? Robot atau mesin saat ini, semuanya, diperintah berdasarkan teks (yang sudah di komputasi dalam bentuk coding/bahasa pemrograman).

Pikiran saya pun nakal. Saya ngebayangin data teks itu jika berisi data-data pemahaman manusia, entah itu cara masak, cara memahami ekspresi, pemahaman akan defisini dan data-data pengetahuan/pemahaman lainnya yang ditulis dalam bentuk teks dan di input ke Robot.

Data pengetahuan/pemahaman itu ditulis langsung oleh manusianya dengan otak yang sampai sempoyongan, tapi giliran di save ke dalam teks biasa (.txt), toh hanya menghasilkan data size yang super kecil sekali.

Naah, problemnya, Robot (Artificial Intelligence) itu kan bisa menyimpan banyak data. Yang bisa saja data robot itu jauh lebih banyak dan lengkap dari data (di otak manusia) yang diketahui/pahami dan dituliskan tadi.

Saya itu kepikiran lagi perihal data (dalam diri) manusia, mulai dari keinginan, rasa dan lainnya, yang sudah bisa di komputasi. Kalian pernah kan melihat artikel yang tiba-tiba memunculkan iklan barang yang ingin kalian beli? Itu salah satu contohnya.

Kalau pada akhirnya Robot itu berisi data-data yang lebih baik dan lebih banyak dari pada manusia (sedang data di dalam Robot itu nantinya bisa saling berkomunikasi sendiri dan menghasilkan Big Data- Super AI). Apakah bukannya disitu Robot > Manusia? Tapi di Film ini TARS si robot pintar masih berada dalam kendali/kuasa si Chooper.

Categories
Opini

Taksonomi Bloom dan Tujuan Pendidikan pada Ranah Kognitif

Setelah sebelumnya saya mengajak pembaca untuk belajar tentang Taksonomi Bloom dan Pendidikan Holistik (3H), kali ini saya akan melanjutkan lagi. Tentang Ranah Kognitif pada Taksonomi Bloom. Pada postingan sebelumnya saya menulis bahwa Taksonomi Bloom adalah pengkategorian cara untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan. Cara-cara dalam mencapai tujuan itu dibagi menjadi tiga ranah: Ranah Kognitif, Ranah Afektif dan Ranah Psikomotorik (atau disebut juga 3H: Head, Heart, Hand).

Pada Ranah Kognitif inilah Bloom mengritik metode belajar yang menurutnya kini lebih banyak dengan cara-cara hafalan. Seperti misalnya seorang siswa/mahasiswa yang sering diberi soal-soal ujian sekedar menyebutkan dan memberikan contoh, artinya hanya disuruh untuk menuliskan ingatannya (atau hafalannya). Bloom mengatakan bahwa hafalan adalah level tingkatan belajar yang paling rendah, namun bukan berarti hafalan merupakan cara yang salah.

Tujuan Pendidikan Pada Ranah Koognitif

Bagi Bloom, ada dua pengkategorian level tingkatan belajar (pada Ranah Kognitif), diantaranya level terbawah dan level tertinggi. Level terbawah dimulai dari Pengetahuan, Pemahaman dan Penerapan. Pada level tertinggi dimulai dari Analisis, Sintesis dan Evaluasi. Jika diurutkan tingakatan-tingkatan tersebut (dimulai dari 1 sebagai yang terendah): 1.Pengetahuan, 2.Pemahaman, 3.Penerapan, 4.Analisis, 5.Sintesis, 6.Evaluasi

Lalu apa saja maksud atau penjelasan dari ke enam tingkatan tersebut? Mari ikuti kasus sederhana saya ini: “Hari ini saya sedang belajar tentang Pancasila”. Pertanyaanya: Apa yang saya dapatkan dari belajar itu?

  1. Pengetahuan
    Level terendahnya adalah saya hanya sebatas tahu. Di level ini asal saya bisa menyebutkan kembali apa yang sudah saya pelajari tanpa ada kekurangan, saya berhasil menjadi tahu, mendapat pengetahuan. (Misalnya saya dengan mudah menjawab soal tentang: Sebutkan sila ketiga dan kedua dari Pancasila!).
  2. Pemahaman
    Satu tingkat diatas tahu adalah paham. Di level ini saya bisa memahami (dengan menyebutkan apa yang saya tahu melalui olahan/bahan ucapan versi saya sendiri tanpa mengurangi poin inti yang dipelajari).
  3. Penerapan
    Naik lagi setingkat dari paham adalah penerapkan. Pada level penerapan ini, apa yang sudah saya pelajari tentang Pancasila bisa menjadi sebuah kebiasaan atau dipraktekan pada kehidupan. Sebut saja level penerapan ini adalah memasukan konsep yang sudah dipelajari ke dalam kehidupan pribadi saya.
  4. Analisis
    Lanjut lagi pada level yang ke empat, yakni analisis. Di level analisis ini cara belajar saya tentang Pancasila sudah lebih dari sebatas untuk tahu, paham, dan diterapkan. Disini saya sudah bisa memisahkan mengenai konsep/unsur (apa saja yang ada dalam belajar Pancasila) ke beberapa bagian untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas. Misal saya paham sila pertama belajar tentang keagamaan, sila kedua belajar tentang kemanusiaan, sila ketiga belajar tentang persatuan dan pada Pancasila tersebut adalagi tentang butir-butir Pancasila. (Cara analisis ini biasanya digunakan untuk sebuah kritik dan akan menciptakan apa yang namanya Critical Thinking)
  5. Sintesis
    Level sistesis hampir sama dengan analisis, yakni bisa memisahkan unsur/konsep yang saya pelajari. Tapi di level ini, daya imajinatif saya yang lebih digunakan. Kalau di level analisis saya punya data tentang sila pertama, sila kedua dan sila ketiga serta butir-butir Pancasila, di level ini saya lebih bisa menggabungkannya (dengan daya imajinatif) dan menciptakan pemahaman baru. Misalnya apa hubungan sila pertama, sila kedua dan ketiga. (Cara sintesis ini biasa digunakan untuk memecahkan sebuah masalah, sebab dari masalah dibutuhkan sebuah solusi yang membuat manusia untuk berpikir kreatif (Creative Thinking) dari hal-hal yang sudah diketahui).
  6. Evaluasi
    Level paling tinggi adalah Evaluasi. Di level ini, semua yang sudah diketahui/dilakukan mulai dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis dan sintesis dikoreksi kembali dan dinilai. Apakah yang saya pelajari tentang Pancasila tersebut sudah benar?

Dari enam tingkatan level Ranah Kognitif Taksonomi Bloom tersebut, setidaknya saya mengerti kalau belajar itu bukan hanya sekedar tahu. Sebab sekedar tahu merupakan level terendah dari apa yang sudah saya pelajari. Belajar terus-terusan tapi hanya sekedar tahu kan ya rugi toh. Dari tulisan ini pun saya sejatinya belajar, belajar pada tingkatan paham, sebab saya mencoba menyampaikan ulang melalui bahasa saya sendiri. Tapi, lebih dari itu, belajar mengenai Taksonomi Bloom pada dasarnya membuat saya (munkin juga kalian) bertanya. “Sudah pada level berapa kemampuan belajar (kognitif) saya?”

Categories
Opini

Taksonomi Bloom dan Pendidikan Holistik

“Kalau aku boleh memiliki satu harapan untuk pendidikan itu adalah penataan yang sistematis terhadap pengetahuan dasar kita sehingga apa yang kita anggap kebenaran bisa dijalankan, sementara apa yang sifatnya takhayul, iseng dan mitos dipandang sebagaimana adanya dan hanya digunakan saat tidak ada lagi yang mendukung kita dalam frustasi dan putus asa,” Benjamin Samuel Bloom.

Saya buka tulisan ini dengan Quote dari seorang tokoh, seorang pemikir di dunia pendidikan. Nama Benjamin Samuel Bloom (selanjutnya saya sebut Bloom) mungkin sudah tidak asing lagi bagi kalian yang suka mencari tahu tentang pendidikan atau bagi yang sedang duduk dan belajar di jurusan pendidikan. Bagi kalian yang belum tahu, coba carilah di dunia maya (yang kaya akan informasi ini) tentang Bloom. Pun kalau mau mengikuti menurut saya, Bloom adalah tokoh pendidikan yang hidup diawal abad 20 (1913) dan meninggal di akhir abad 20 (1999), seorang psikolog dan filsuf yang punya pengaruh di dunia pendidikan.

Bloom punya pengaruh di dunia pendidikan, sekecil-kecilnya adalah berpengaruh dipikiran saya dan sebesar-besarnya (atau mungkin ada yang lebih besar dari ini) adalah berpengaruh di dunia pendidikan kampus (sebagai bahan ajar pokok untuk memahami pendidikan). Awal saya mulai mengenal Bloom adalah ketika belajar Ilmu Pengetahuan Umum, hanya sebatas kenal (alias tahu), selebihnya saya mulai belajar memahami.

Sebab saya tahu, maka saya harus memahami. Cara saya memahami Bloom adalah dengan menulis tulisan ini. Saya belajar mengungkapkan yang saya tahu dengan bahasa saya sendiri (sebab dengan cara ini pikiran saya bekerja lebih baik). Memangnya ada bedanya antara tahu dan paham? Tentu saja, dalam pelajaran Bloom inilah, tahu dan paham dibedakan secara level. Meski bagi Bloom, tahu dan paham adalah kelompok terendah dalam tingkatan belajar. Kok bisa? Itu ada di teorinya, pada Taksonomi Bloom. Lah, apa itu Taksonomi Bloom?

Taksonomi Bloom

Berawal dari kegelisahannya, Benjamin S. Bloom di awal tahun 1950-an dalam Konferensi Asosiasi Psikologi Amerika, (melalui hasil penelitiannya) menganggap bahwa pendidikan (di kampus dan sekolah) hari ini, ketika memberikan tugas dan soal-soal lebih banyak menyuruh mahasiswa dan siswanya untuk hafalan, mengingat kembali. Misalnya ketika ujian, mahasiswa dan siswa diperintah untuk menutup buku yang artinya mereka diperintah untuk menguji hafalannya.

Bloom, tidak menganggap hafalan adalah cara yang salah, tapi baginya hafalan adalah tingkat berpikir (belajar) yang paling rendah. Seharusnya jika sudah seorang mahasiswa tingkat belajar bukan lagi perihal hafalan: “Sebutkan, jelaskan, berikan dan lain sebagainya itu.” Maka harus ada yang lebih dari hanya sekedar hafalan. Disinilah cikal bakal adanya Taksonomi Bloom.

Bagi yang belum tahu apa itu Taksonomi, Taksonomi adalah pengklasifikasian berhirarki dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Kalian pasti sudah tidak asing dengan pengklasifikasian atau pengkategorian manusia dalam teori Darwin bukan? Nah, itu merupakan salah satu Taksonomi, yakni Taksonomi Biologi. Pada Taksonomi Bloom, pengkategoriannya adalah cara untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan.

Pada Taksonomi Bloom tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah/ kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya. Ada Ranah Kognitif, Ranah Afektif dan Ranah Psikomotorik. Bloom juga menyebut tiga ranah itu sebagai Pendidikan Holistik 3H: Head (Kepala/Kognitif), Heart (Hati/Afektif) dan Hand (Tangan/Tindakan/Psikomotorik).

Pendidikan Holistik (3H)

Sebelum saya tulis lebih jauh tentang tiga ranah itu dan pembagian yang lebih rinci lagi dari masing-masing ranah, saya akan mengorek dulu tentang 3H tersebut. 3H itu merupakan lingkaran, sebuah siklus yang harus saling terkait pada pendidikan. Begini, ketika kita belajar maka harus berpengaruh kedalam Kognitif (Kepala), Afektif (Hati) dan Psikomotorik (Tindakan) kita. Ketiga hal tersebut harus benar-benar singkron, artinya apa yang kamu pelajari itu harus mantap di kepala, di hati dan di tindakan agar apa yang dipelajari benar-benar tercapai dengan baik.

Jika kebenaran ilmu yang kamu yakini (di kepala), cocok dan mantap di hati, serta cocok dengan tindakan keseharianmu, maka hakikat pendidikan yang kamu jalani itu akan mengangkat derajatmu. Level hidupmu akan lebih baik dari sebelumnya. Ibaratkan saja, ketika kita akan memberi bantuan ke korban bencana, secara Heart (Hati) mungkin kita ingin membantu/memberi semua harta yang kita punya karena kasihan. Tapi secara Head (kepala), dikalkulasi ternyata kita juga butuh harta, maka Hand (Tindakan) yang kita lakukan pun akan lebih menenangkan (atau sebut saja ikhlas).

Dari kasus bencana tersebut seandainya kita hanya menuruti kemauan Heart, tentu kepala (Head) akan tersiksa (pikirannya), begitu pula sebaliknya. Bahkan ketika antara Head dan Heart pun sudah singkron tapi tidak ada Hand (Tindakan), sama saja tidak ada artinya.

Begitulah di dunia pendidikan, antara ketiganya harus sesuai, harus singkron, baik itu Kognitif, Afektif dan Psikomotorik. Ketiga hal tersebut harus mantap menjadi satu kesatuan agar tujuan pendidikan pun lebih baik. Sebab pendidikan bukan hanya tentang sekedar paham, lalu kemudian selesai.

Dalam mencapai tujuan pendidikan itulah Taksonomi Bloom perlu saya pahami lagi, terkhusus mengenai bagaimana tujuan pendidikan pada ranah Kognitif, Afektif dan Psikomotorik (lebih rinci lagi). Ketiga hal tersebut akan saya tulis ditulisan selanjutnya, sebab tulisan sependek ini sudah membuat pikiran saya lelah. Saya butuh kopi.

Categories
Opini

Arti Pendidikan dan Aliran Pendidikan

Tulisan ini saya buat secara pribadi sebagai pengingat dan cara saya mengeluarkan pengetahuan-pengetahuan yang tertanam di alam bawah sadar saya. Sebagai manusia yang selalu belajar, yang selalu menempuh sesuatu yang disebut pendidikan, saya merupakan orang yang selalu mencari tahu dan terus mencari tentang apa yang saya tidak tahu agar menjadi tahu. Seperti ungkapan Benjamin Samuel Bloom, seorang filsuf pendidikan, “Kita perlu lebih jelas tentang apa yang kita tahu dan apa yang tidak kita tahu. Sehingga kita tidak dibingunkan oleh keduanya.”

Salah satu hal yang awalnya tidak saya ketahui adalah pendidikan. Apa itu pendidikan? Saya pun belajar dan mencari tahu akan ketidaktahuan itu. Pendidikan, dunia barat mengenal itu dengan Education, yakni kata yang berasal dari Do Care, artinya menuntun. Dan huruf E yang mengawali kata Education diartikan sebagai keluar. Jadi Education berarti keluar menuntun (menuntun keluar dari ketidaktahuan).

Itu baru versi dunia barat. Biasanya orang sering membandingkan antara barat dan timur. Dunia timur dalam hal ini Islam memang punya arti tersendiri akan memaknai pendidikan, bahkan bisa dibilang lebih kompleks. Di Islam ada istilah Ta’lim, Tarbiyah, Ta’dib, Tadris dan Tahdzib yang semua itu bisa kalian pahami disini (Baca: Perbedaan Antara Tarbiyah, Tadris, Ta’lim, Ta’dib dan Tahdzib).

Selain tentang pendidikan itu, saya juga pernah menjadi orang yang tidak tahu tentang aliran pendidikan, dalam hal ini aliran Humanistik dan Behavioristik. Apa aliran pendidikan Humanistik dan Behavioristik itu? Aliran Humanistik adalah aliran pendidikan yang meyakini bahwa belajar adalah membentuk manusia yang ideal, manusia yang dicita-citakan yaitu manusia yang mampu mencapai aktualisasi diri.

Maka perlu diperhatikan bagaimana perkembangan peserta didik dalam mengaktualisasikan dirinya, pemahaman diri serta realisasi diri. Mudahnya begini, aliran Humanistik ini pengetahuan (idealnya) sudah ada dalam diri manusia, jadi tinggal dihidupkan saja. Apa yang ada dalam diri tinggal dihidupkan (dipelajari) lagi.

Berbeda dengan Humanistik, aliran Behavioristik adalah aliran yang percaya bahwa belajar merupakan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Perubahan perilaku seseorang yang dapat diamati, diukur dan dapat dinilai secara kongkret. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dapat menunjukan perubahan perilakunya.

Mudahnya begini, di aliran Behavioristik ini pengetahuan (idealnya) dibuat oleh keadaan (lingkungan). Jadi manusia itu layaknya papan kosong yang diisi dengan tujuan tertentu. Misalnya sebuah wacana, “Mari kita wujudkan manusia yang beradab.” Maka untuk mencapai beradab itu, harus diciptakan sebuah keadaan yang membuat manusia bisa beradab.

Selepas saya belajar tentang istilah pendidikan dan aliran pendidikan diatas, saya jadi tahu, tapi bukan berarti saya ini jadi ahlinya. Yang saya tulis diatas hanyalah berbagi pikiran yang mengalir dan tertuang dalam teks seperti ini. Jika ada yang kurang tepat, mohon diluruskan. Salam.