Categories
Opini Read

Taksonomi Bloom dan Tujuan Pendidikan di Ranah Afektif

Sudah cukup lama saya tidak melanjutkan serial belajar Taksonomi Bloom. Terakhir kali saya menulis tentang Bloom adalah artikel berjudul Taksonomi Bloom dan Tujuan Pendidikan pada Ranah Kognitif yang terpublish pada tanggal 22 Oktober 2018. Artinya sudah hampir 3 tahun saya tidak melanjutkannya. Kini saya kembali mempelajari, lalu mencoba untuk menuliskannya kembali secara kontinyu.

Bukan tanpa alasan untuk kembali mempelajari konsep Benjamin Bloom. Di momentum seperti ini, di masa bagaimana pendidikan mengalami sebuah sistem yang berbeda. Di masa ketika kita bertumbuh dan berkembang dari rumah, belajar menggunakan sistem daring tanpa ada pertemuan. Tentu ini ada dampak positifnya, tapi tak menutup kemungkinan juga dampak negatifnya. Tapi bagaimanapun sistem yang sedang digunakan pada pendidikan saat ini, saya kira konsep Bloom kembali mengingatkan kita untuk menemukan titik ideal bagaimana seharusnya output dari pendidikan itu sendiri.

Pada seri tulisan sebelumnya, setidaknya kita belajar bahwa tujuan pendidikan di ranah kognitif membuat kita mampu meningkatkan level akal secara berjenjang. Mulai dari level terendah sekedar cukup tahu tentang pengetahuan, sampai pada level puncak bagaimana mengevaluasi sebuah ilmu-pengetahuan itu sendiri.

Pada tulisan ini saya akan mengajak belajar lagi bagaimana Tujuan Pendidikan pada Ranah Afektif. Pada ranah ini, fokusnya ada pada sikap atau attitude. Bloom mencoba menjelaskan lima tingkatan Tujuan Pendidikan pada Ranah Afektif, yang pada akhirnya, pendidikan seharusnya mampu membentuk setiap individu menjadi makhluk yang berkarakter.

Tujuan Pendidikan Pada Ranah Afektif

Bloom membagi tingkatan tujuan pendidikan pada ranah afektif ini menjadi lima bagian, pada level paling rendah tujuan pendidikan di ranah afektif adalah membuat kita mampu menerima, lalu responsif, selanjutnya mampu menghargai, kemudian kerjasama (harmoni), dan level puncaknya adalah berkarakter.

  1. Penerimaan
    Pada level ini pendidikan harusnya mampu membuat setiap orang untuk menerima. Maksudnya mampu membuka diri terhadap segala sesuatu. Mampu membuka diri terhadap orang lain dan pada setiap ilmu pengetahuan baru. Pada praktik keseharian misalnya, kita mampu menerima belajar dengan orang yang justeru membosankan, mampu menerima belajar dengan orang yang secara formal pendidikan di bawah kita, bagaimanapun kondisinya batin kita harus mampu menerima. Sebab akan selalu ada ilmu baru dari setiap penerimaan pada siapa dan apapun.
  2. Responsif
    Ketika kita sudah selesai pada level penerimaan/menerima, maka sikap kita yang harus ditumbuhkan adalah responsif. Seperti apakah kita setuju pada konsep atau pengetahuan yang di utarakan seseorang? Apakah kita akan mengaplikasikan sebuah masukan dari seseorang atau tidak? Apakah kita akan menganalisis sebuah pengetahuan tersebut atau tidak. Kita harus merespon, harus menanggapi. Pada prosesnya, setiap penerimaan yang direspon adalah bentuk sikap peduli terhadap apa yang diberikan, dalam hal ini ilmu-pengetahuan.
  3. Menghargai
    Level selanjutnya adalah menghargai. Tujuan pendidikan di ranah sikap harusnya membuat kita mampu menghargai. Di level ini, kita sudah bisa menemukan sebuah value (nilai) dari penerimaan dan respon, “ohh ini baik buat saya, ohh ini buruk buat saya,” ,”ohh ini cocok deh, ohh ini nggak cocok deh,” kita mampu menilai untuk kebaikan diri, dan tetap menghargai.
  4. Kerjasama / Harmoni
    Ketika sudah mencapai level mampu menghargai, maka sikap yang harus timbul selanjutnya adalah harmoni, mampu bekerjasama. Bukan untuk menang-menangan sendiri. Di level ini kita sudah menemukan nilai yang disepakati bersama. Maka kita mampu untuk srawung, hidup bersama, mampu menyelesaikan segala persoalan secara bersama/kolektif.
  5. Karakterisasi
    Ini adalah level puncak dari Ranah Afektif yang dikemukakan Bloom, yaitu Karakterisasi. Ini seperti apa yang sering kita sebut sebagai Pendidikan Karakter. Di level ini pendidikan membentuk diri kita secara ideal. Kita sudah terbentuk, menjadi pribadi yang berkarakter, sosok yang cerdas, soleh, kreatif dan sebagainya.

Dari lima level tujuan pendidikan di ranah afektif yang dikemukakan Bloom ini, kesimpulan saya adalah, ini merupakan sebuah seni mengolah tingkatan level batin. Kalau di ranah sebelumnya akal kita yang belajar, di ranah ini batin kita yang belajar, belajar untuk mampu menerima, mampu tidak cuek (alias responsif), mampu menghargai, mampu bekerjasama (alias gampang srawung [Jawa:hidup/melakukan secara bersama]) dan berkarakter baik.

Tapi kemudian setelah saya hendak menyelesaikan tulisan ini, timbul satu pertanyaan, selama beberapa tahun belajar terus via daring yang tentu saja memiliki hambatan sinyal ndut-ndutan, noise, dan distraksi fokus pada layar pembicara (yang gonta-ganti), apakah kita sudah sepenuhnya mampu menerapkan level menerima, responsif, dan menghargai? Tiga level itu saja, apakah kita sudah selesai?

Categories
Opini Read

Taksonomi Bloom dan Tujuan Pendidikan pada Ranah Kognitif

Setelah sebelumnya saya mengajak pembaca untuk belajar tentang Taksonomi Bloom dan Pendidikan Holistik (3H), kali ini saya akan melanjutkan lagi. Tentang Ranah Kognitif pada Taksonomi Bloom. Pada postingan sebelumnya saya menulis bahwa Taksonomi Bloom adalah pengkategorian cara untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan. Cara-cara dalam mencapai tujuan itu dibagi menjadi tiga ranah: Ranah Kognitif, Ranah Afektif dan Ranah Psikomotorik (atau disebut juga 3H: Head, Heart, Hand).

Pada Ranah Kognitif inilah Bloom mengritik metode belajar yang menurutnya kini lebih banyak dengan cara-cara hafalan. Seperti misalnya seorang siswa/mahasiswa yang sering diberi soal-soal ujian sekedar menyebutkan dan memberikan contoh, artinya hanya disuruh untuk menuliskan ingatannya (atau hafalannya). Bloom mengatakan bahwa hafalan adalah level tingkatan belajar yang paling rendah, namun bukan berarti hafalan merupakan cara yang salah.

Tujuan Pendidikan Pada Ranah Koognitif

Bagi Bloom, ada dua pengkategorian level tingkatan belajar (pada Ranah Kognitif), diantaranya level terbawah dan level tertinggi. Level terbawah dimulai dari Pengetahuan, Pemahaman dan Penerapan. Pada level tertinggi dimulai dari Analisis, Sintesis dan Evaluasi. Jika diurutkan tingakatan-tingkatan tersebut (dimulai dari 1 sebagai yang terendah): 1.Pengetahuan, 2.Pemahaman, 3.Penerapan, 4.Analisis, 5.Sintesis, 6.Evaluasi

Lalu apa saja maksud atau penjelasan dari ke enam tingkatan tersebut? Mari ikuti kasus sederhana saya ini: “Hari ini saya sedang belajar tentang Pancasila”. Pertanyaanya: Apa yang saya dapatkan dari belajar itu?

  1. Pengetahuan
    Level terendahnya adalah saya hanya sebatas tahu. Di level ini asal saya bisa menyebutkan kembali apa yang sudah saya pelajari tanpa ada kekurangan, saya berhasil menjadi tahu, mendapat pengetahuan. (Misalnya saya dengan mudah menjawab soal tentang: Sebutkan sila ketiga dan kedua dari Pancasila!).
  2. Pemahaman
    Satu tingkat diatas tahu adalah paham. Di level ini saya bisa memahami (dengan menyebutkan apa yang saya tahu melalui olahan/bahan ucapan versi saya sendiri tanpa mengurangi poin inti yang dipelajari).
  3. Penerapan
    Naik lagi setingkat dari paham adalah penerapkan. Pada level penerapan ini, apa yang sudah saya pelajari tentang Pancasila bisa menjadi sebuah kebiasaan atau dipraktekan pada kehidupan. Sebut saja level penerapan ini adalah memasukan konsep yang sudah dipelajari ke dalam kehidupan pribadi saya.
  4. Analisis
    Lanjut lagi pada level yang ke empat, yakni analisis. Di level analisis ini cara belajar saya tentang Pancasila sudah lebih dari sebatas untuk tahu, paham, dan diterapkan. Disini saya sudah bisa memisahkan mengenai konsep/unsur (apa saja yang ada dalam belajar Pancasila) ke beberapa bagian untuk memperoleh pemahaman yang lebih luas. Misal saya paham sila pertama belajar tentang keagamaan, sila kedua belajar tentang kemanusiaan, sila ketiga belajar tentang persatuan dan pada Pancasila tersebut adalagi tentang butir-butir Pancasila. (Cara analisis ini biasanya digunakan untuk sebuah kritik dan akan menciptakan apa yang namanya Critical Thinking)
  5. Sintesis
    Level sistesis hampir sama dengan analisis, yakni bisa memisahkan unsur/konsep yang saya pelajari. Tapi di level ini, daya imajinatif saya yang lebih digunakan. Kalau di level analisis saya punya data tentang sila pertama, sila kedua dan sila ketiga serta butir-butir Pancasila, di level ini saya lebih bisa menggabungkannya (dengan daya imajinatif) dan menciptakan pemahaman baru. Misalnya apa hubungan sila pertama, sila kedua dan ketiga. (Cara sintesis ini biasa digunakan untuk memecahkan sebuah masalah, sebab dari masalah dibutuhkan sebuah solusi yang membuat manusia untuk berpikir kreatif (Creative Thinking) dari hal-hal yang sudah diketahui).
  6. Evaluasi
    Level paling tinggi adalah Evaluasi. Di level ini, semua yang sudah diketahui/dilakukan mulai dari pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis dan sintesis dikoreksi kembali dan dinilai. Apakah yang saya pelajari tentang Pancasila tersebut sudah benar?

Dari enam tingkatan level Ranah Kognitif Taksonomi Bloom tersebut, setidaknya saya mengerti kalau belajar itu bukan hanya sekedar tahu. Sebab sekedar tahu merupakan level terendah dari apa yang sudah saya pelajari. Belajar terus-terusan tapi hanya sekedar tahu kan ya rugi toh. Dari tulisan ini pun saya sejatinya belajar, belajar pada tingkatan paham, sebab saya mencoba menyampaikan ulang melalui bahasa saya sendiri. Tapi, lebih dari itu, belajar mengenai Taksonomi Bloom pada dasarnya membuat saya (munkin juga kalian) bertanya. “Sudah pada level berapa kemampuan belajar (kognitif) saya?”