#SANDALLLL

Categories
Opini Read

Bangun dari Tidur Kesadaran

Tengah malam, di penghujung tahun 2025, suasananya hening dan tenang. Aku seringkali membaca beberapa tulisan lama, kadang berefleksi, kadang juga sekedar membuka galeri HP, melihat foto-foto beberapa bulan belakangan ataupun tahun-tahun yang lalu.

Kali ini, aku memilih berbaring sembari melihat foto-foto itu. Sejak menjadi seorang bapak, ternyata galeri HP lebih banyak berisi foto anak. Melihatnya satu demi satu foto dan mengulas kembali memori masa-masa sang anak tumbuh dan berkembang.

Dalam momen itu tiba-tiba muncul celetuk pikiran: “dipikir-pikir kok kaya tidak terasa, sekarang Esa sudah sebesar dan seaktif ini. Dipikir-pikir lagi hidup kok kaya banyak tidak terasanya. Tau-tau situasinya sudah begini, tau-tau juga sudah begitu, dan tau-tau juga sudah akhir tahun saja.”

Dicari-cari kenapa begitu, ternyata ilmu soal “tidak terasa” itu nyatanya pernah dibahas oleh seorang filsuf bernama Heidegger, dia bilang: kita ini para manusia hanya “sesekali bangun dari tidur kesadaran”.

Bangun dari tidur kesadaran? Ya, itu terjadi kalo kita tiba-tiba berada pada momen yang intens: merasa bahagia, sedih yang mendalam, dan lain sebagainya yang membuat kita tersentak sehingga waktu jadi lebih “terasa”.

Di kondisi itu, kita jadi lebih sadar, hadir, dan menyadari situasi. Membuat waktu yang tadinya terasa berjalan “tau-tau sudah begini dan begitu” jadi lebih berharga dan terasa. Itulah yang di maksud “bangun” oleh Heidegger.

Sisanya? Ya kita hanya jadi makhluk autopilot. Tidur, bangun, kerja dan melakukan apa saja yang semua menjadi rutinitas biasa saja dan lewat begitu saja tanpa benar-benar merasa hadir.

Sebelum akhirnya memilih untuk tidur, aku bertanya: dari semua hari yang berlalu di tahun ini, berapa banyak yang benar-benar “kuhadiri”? Sisanya, mungkin hanya autopilot yang berjalan.

Metro, 27-11-2025 | #Sandallll #Refleksi

By Ahmad Mustaqim

Mari terus belajar...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *